Oleh: goeroendeso | 17 Januari 2009

Inyong-2Well Come To My Blog, Selamat Datang, Sugeng Rawuh, Wilujeng Sumping…

Inilah blog saya, saya mengundang anda untuk ikut memberikan apapun, tanggapan, kritikan, atau saran dan masukan terhadap isi dari blog saya ini.

Karena saya menganggap, semua itu adalah pemacu untuk lebih baik lagi dalam mengelola blog atau rumah kedua saya ini, serta sarana menjalin tali silaturahmi dengan teman-teman dimanapun berada, meskipun tidak bisa bertatap mata.

Oke, selamat datang di blog saya, selamat membaca atau mungkin mengambil bahan-bahan yang dirasakan bermanfaat dan anda butuhkan.

Terimakasih, Haturnuhun, arigato, maturnembah nuwun……

Sumarso

Dengan berlakunya UU No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, jam wajib guru dalam mengajar tatap muka menjadi 24 jam perminggu. Bagi sekolah yang mempunyai jumlah rombongan belajar yang besar, hal itu tidak dirasakan menjadi masalah. Akan tetapi bagi sekolah yang mempunyai jumlah rombongan belajar yang kecil, hal ini akan menjadi masalah tersendiri karena untuk memenuhi jumlah jam wajib yang 24 jam akan dirasakan sulit.

Akan tetapi sekarang telah diterbitkan Permendiknas No. 39 Tahun 2009 tentang Pemenuhan Beban Kerja Guru dan Pengawas Satuan Pendidikan, serta Buku Pedoman Pelaksanaan Tugas Guru dan Pengawas Satuan Pendidikan, yang menjelaskan secara rinci cara menghitung jumlah jam wajib seorang guru dan pengawas satuan pendidikan, sehingga masalah kekurangan jam wajib guru sudah dapat ditemukan solusinya.

Untuk mendapatkan Permendiknas dan Buku Pedoman Pelaksanaan tersebut diatas, silahkan bapak/ibu klik tautan dibawah ini :

Permendiknas_39_Tahun 2009 Tentang Pemenuhan Beban Kerja Guru dan Pengawas Satuan Pendidikan

Buku Pedoman Pelaksanaan Tugas Guru dan Pengawas Satuan Pendidikan

Oleh: goeroendeso | 9 November 2009

Belajar dan Hasil Belajar

a. Pengertian belajar
Belajar adalah proses/hasil perubahan pada aspek kapabilitas (pengetahuan, sikap dan keterampilan, dan perilaku) sebagai akibat berintraksi dengan lingkungannya. Perubahan perilaku yang relatif permanen itu ditentukan oleh stimuli yang dipasok oleh lingkungan luar seseorang, perubahan tingkah laku seseorang dapat dikendalikan melalui pengendalian stimuli lingkungan yang tepat sebagai hasil latihan.
Beberapa pendapat para ahli tentang defenisi belajar diantaranya Bower (1975:35) “belajar berhubungan dengan perubahan tingkah laku seseorang terhadap sesuatu situasi yang disebabkan oleh pengalamannya yang berulang-ulang dalam situasi itu, dimana perubahan tingkah laku itu tidak dapat dijelaskan atau dasar kecendrungan respon pembawaan kematangan”. Menurut Gagne (1977:132) “Belajar terjadi apabila sesuatu situasi stimulus bersama dengan isi ingatan mempengaruhi siswa sedemikian rupa sehingga perbuatannya (performance) berubah dari waktu sebelum ia mengalami situasi itu ke waktu sesudah ia mengalami situasi tadi”. Morgan (2008:18) memberikan definisi belajar adalah Setiap perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman. Wetherington (1992:56) berpendapat belajar yaitu suatu perubahan didalam kepribadian yang mengatakan diri sebagai suatu pola baru dari reaksi yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, kepandaian atau suatu pengertian, jadi definisi belajar dari beberapa elemen:
1) Belajar adalah merupakan suatu perubahan dalam tingkah laku dimana perubahan itu dapat mengarah kepada tingkah laku yang lebih baik tetapi ada kemungkinan mengarah kepada tingkah laku yang lebih buruk. 2) Belajar merupakan suatu perubahan yang terjadi melalui latihan atau pengalaman dalam arti perubahan-perubahan yang disebabkan oleh pertumbuhan atau tidak dianggap sebagai hasil belajar seperti perubahan-perubahan yang terjadi pada diri seorang bayi. 3) Belajar adalah perubahan relatif mantap, harus merupakan akhir dari pada suatu periode waktu yang cukup panjang. 4) Belajar merupakan perubahan tingkah laku yang menyangkut berbagai aspek kepribadian, baik fisik maupun psikis seperti: perubahan dalam pengertian, pemecahan suatu masalah, berpikir, keterampilan, kecakapan, kebiasaan ataupun sikap.

Dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan suatu perubahan dalam tingkah laku, dimana perubahan itu terjadi melalui latihan atau pengalaman yang berulang-ulang. Perubahan belajar selalu dilakukan oleh individu sepanjang hidupnya, sedangkan perubahan yang terjadi pada diri individu yang belajar dapat berupa hasil belajar yang diperoleh.

b. Prinsip- prinsip Belajar
Belajar terjadi lebih efektif apabila:
1) Dalam lingkungan yang nyaman secara fisik dan psikis bagi wajib belajar.
Nyaman fisik: sarana dan prasarana belajar yang memadai dan menyenangkan.
Nyaman psikis: hubungan saling percaya, saling menghargai, saling membantu, bebas menyatakan pendapat, dan menerima perbedaan diantara wajib belajar dan pendidik.
2) Wajib belajar merasakan kebutuhan belajar.
Wajib belajar menganggap tujuan belajar sebagai tujuannya sendiri.
3) Wajib belajar terlibat dalam perencanaan dan pelaksanaan belajar
Wajib belajar aktif dalam proses perencanaan dan pelaksanaan kegiatan belajar.
4) Berpusat pada pengalaman
Wajib belajar mengalami secara langsung atau tidak langsung proses belajar dan menggunaan pengalamannya secara tepat.
5) Wajib belajar menerima umpan balik yang tepat untuk menilai keberhasilan mereka mencapai tujuan.

2. Hasil Belajar
a. Pengertian hasil belajar

Hasil belajar yang dicapai seseorang merupakan hasil belajar yang diperoleh melalui proses belajar dan dipengaruhi oleh faktor yang bersifat internal atau eksternal. Perubahan yang terjadi biasanya dapat dilihat dengan bertambah baiknya atau meningkatnya kemampuan yang dicapai seseorang. Pengertian hasil belajar, merupakan segala sesuatu yang diperoleh, dikuasai atau merupakan hasil proses belajar mengajar”. Hasil belajar merupakan kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajar”.
b. Faktor yang mempengaruhi hasil belajar
Belajar merupakan sebagai suatu aktivias mental atau psikis yang dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa adalah:
1). Faktor internal (dalam diri siswa) yakni keadaan/kondisi jasmani (fisologis) dan rohani (aspek psikologis) seperti tingkat kecerdasan/intelegensi siswa, sikap siswa, bakat siswa, minat siswa, motivasi siswa
2). Faktor eksternal (faktor luar dari siswa), yakni kondisi lingkungan di sekitar diri siswa yang terdiri dari dua macam yakni: faktor lingkungan sosial dan lingkungan non sosial.
3). Faktor pendekatan belajar (approachto learning) yakni jenis upaya belajar siswa yang meliputi strategi dan metode yang digunakan siswa untuk melakukan kegiatan pembelajaran materi-materi pembelajaran.

Melbourne – Malang tak bisa ditolak, untung tak dapat diraih. Bayi usia enam bulan yang berada dalam kereta dorong itu terlepas dari pegangan ibunya sehingga terjatuh ke lintasan kereta dan tertabrak kereta komuter di Melbourne.

Bayi dalam kereta dorong itu jatuh ke jalur rel kereta, saat lampu lintasan menyala merah. Ibunya teledor melepaskan kereta bayinya sehingga terguling masuk lintasan kereta api. Ibu itu sempat mengejar namun kereta dorong roda tiga itu sudah lebih dulu terjun dari peron stasiun.

Bersamaan dengan itu, kereta datang dan sang ibu berusaha meraih kereta bayinya. Hanya selang beberapa detik berhenti, kereta komuter berjalan lagi. Sang ibu panik. Akhirnya kejadian dramatis tak terhindarkan lagi, kereta komuter itu mendorong kereta bayi sekitar 40 meter sepanjang rel sebelum akhirnya berhenti, tapi masinis tidak pergi ke bawah kereta. Bayi yang diikat ke dalam kereta dorong, ternyata selamat. Dia hanya menderita benjolan di kepala.

Polisi mengatakan mereka merilis video, yang ditangkap Kamis lalu di sebuah stasiun pinggiran kota di selatan kota Melbourne. Penayangan video itu ditujukan agar orang sadar akan keselamatan ekstra bila menggunakan sistem kereta.

Rekaman dramatis yang ditayangkan di YouTube ini banyak yang mengakses di seluruh Australia dan internasional. Polisi belum mengidentifikasi sang ibu, yang ingin dirahasiakan identitasnya dan mengatakan insiden itu adalah kecelakaan.

“Sungguh menakjubkan betapa banyak orang yang terlalu dekat dengan lintasan meskipun bahaya,” ujar Sersan Michael Ferwerda kepada wartawan. “Beruntung selamat dan itu adalah kesempatan bagi penumpang lainnya untuk mengindahkan peringatan untuk lebih berhati-hati.”

Rekaman video keamanan menunjukkan ibu berhenti pada peron dengan menghadapkan kereta bayinya ke lintasan rel kereta. Dia melepaskan pegangan kereta dorong tanpa memastikan rem kereta bayinya berfungsi dan tampaknya hanya ditahan dengan kedua tangannya.

Kereta dorong itu berjalan dan terjun ke lintasan dan terdorong kereta komuter hingga terguling-guling sebelum akhirnya berhenti. Sang ibu sesaat sempat mengejar namuan semuanya sudah terlambat.

Kereta tiba dan berhenti di stasiun. Ibu itu mencengkeram wajahnya dan tampak panik. Saat kereta berhenti, penumpang di stasiun bergegas ke depan. Kejadian itu hanya berlangsung hanya sekitar tujuh detik.

Jon Wright, paramedis itu mengatakan, bayi itu hanya mengalami luka ringan dan dikembalikan kepada ibunya hanya dalam beberapa menit usai kecelakaan terjadi. Bayi itu dibawa ke Rumah Sakit anak Melbourne Royal.

“Tampaknya ia butuh makan dan tidur siang,” ujar Wright seperti dikutip oleh surat kabar Herald Sun. “Untungnya bayi itu terikat di dalam kereta dorong pada waktu itu, yang mungkin menyelamatkan hidupnya. Saya pikir anak itu sangat beruntung,”

Sekali Lagi Allah SWT telah menunjukan Keperkasaan dan Kekuasaannya kepada kita semua, setelah bencana-bencana yang melanda berbagai daerah di Indonesia dan Dunia.

Sumber : Tempo Interaktif dan Youtube

Oleh: goeroendeso | 15 Oktober 2009

Sejarah Permainan Bola Basket

Basket dianggap sebagai olahraga unik karena diciptakan secara tidak sengaja oleh seorang pastor. Pada tahun 1891, Dr. James Naismith, seorang pastor asal Kanada yang mengajar di sebuah fakultas untuk para mahasiswa profesional di YMCA (sebuah wadah pemuda umat Kristen) di Springfield, Massachusetts, harus membuat suatu permainan di ruang tertutup untuk mengisi waktu para siswa pada masa liburan musim dingin di New England.Terinspirasi dari permainan yang pernah ia mainkan saat kecil di Ontario,Naismith menciptakan permainan yang sekarang dikenal sebagai bola basket pada 15 Desember 1891.

Menurut cerita, setelah menolak beberapa gagasan karena dianggap terlalu keras dan kurang cocok untuk dimainkan di gelanggang-gelanggang tertutup, dia lalu menulis beberapa peraturan dasar, menempelkan sebuah keranjang di dinding ruang gelanggang olahraga, dan meminta para siswanya untuk mulai memainkan permainan ciptaannya itu.

Pertandingan resmi bola basket yang pertama, diselenggarakan pada tanggal 20 Januari 1892 di tempat kerja Dr. James Naismith. “Basket ball” (sebutan bagi olahraga ini dalam bahasa Inggris), adalah sebutan yang digagas oleh salah seorang muridnya. Olahraga ini pun menjadi segera terkenal di seantero Amerika Serikat. Penggemar fanatiknya ditempatkan di seluruh cabang YMCA di Amerika Serikat. Pertandingan demi pertandingan pun segera dilaksanakan di kota-kota di seluruh negara bagian Amerika Serikat.

Pada awalnya,setiap tim berjumlah sembilan orang dan tidak ada dribble,sehingga bola hanya dapat berpindah melalui pass (lemparan). Sejarah peraturan permainan basket diawali dari 13 aturan dasar yang ditulis sendiri oleh James Naismith. Aturan dasar tersebut adalah sebagai berikut.

  1. Bola dapat dilemparkan ke segala arah dengan menggunakan salah satu atau kedua tangan.
  2. Bola dapat dipukul ke segala arah dengan menggunakan salah satu atau kedua tangan, tetapi tidak boleh dipukul menggunakan kepalan tangan (meninju).
  3. Pemain tidak diperbolehkan berlari sambil memegang bola. Pemain harus melemparkan bola tersebut dari titik tempat menerima bola, tetapi diperbolehkan apabila pemain tersebut berlari pada kecepatan biasa.
  4. Bola harus dipegang di dalam atau diantara telapak tangan. Lengan atau anggota tubuh lainnya tidak diperbolehkan memegang bola.
  5. Pemain tidak diperbolehkan menyeruduk, menahan, mendorong, memukul, atau menjegal pemain lawan dengan cara bagaimanapun. Pelanggaran pertama terhadap peraturan ini akan dihitung sebagai kesalahan, pelanggaran kedua akan diberi sanksi berupa pendiskualifikasian pemain pelanggar hingga keranjang timnya dimasuki oleh bola lawan, dan apabila pelanggaran tersebut dilakukan dengan tujuan untuk mencederai lawan, maka pemain pelanggar akan dikenai hukuman tidak boleh ikut bermain sepanjang pertandingan. Pada masa ini, pergantian pemain tidak diperbolehkan.
  6. Sebuah kesalahan dibuat pemain apabila memukul bola dengan kepalan tangan (meninju), melakukan pelanggaran terhadap aturan 3 dan 4, serta melanggar hal-hal yang disebutkan pada aturan 5.
  7. Apabila salah satu pihak melakukan tiga kesalahan berturut-turut, maka kesalahan itu akan dihitung sebagai gol untuk lawannya (berturut-turut berarti tanpa adanya pelanggaran balik oleh lawan).
  8. Gol terjadi apabila bola yang dilemparkan atau dipukul dari lapangan masuk ke dalam keranjang, dalam hal ini pemain yang menjaga keranjang tidak menyentuh atau mengganggu gol tersebut. Apabila bola terhenti di pinggir keranjang atau pemain lawan menggerakkan keranjang, maka hal tersebut tidak akan dihitung sebagai sebuah gol.
  9. Apabila bola keluar lapangan pertandingan, bola akan dilemparkan kembali ke dalam dan dimainkan oleh pemain pertama yang menyentuhnya. Apabila terjadi perbedaan pendapat tentang kepemilikan bola, maka wasitlah yang akan melemparkannya ke dalam lapangan. Pelempar bola diberi waktu 5 detik untuk melemparkan bola dalam genggamannya. Apabila ia memegang lebih lama dari waktu tersebut, maka kepemilikan bola akan berpindah. Apabila salah satu pihak melakukan hal yang dapat menunda pertandingan, maka wasit dapat memberi mereka sebuah peringatan pelanggaran.
  10. Wasit berhak untuk memperhatikan permainan para pemain dan mencatat jumlah pelanggaran dan memberi tahu wasit pembantu apabila terjadi pelanggaran berturut-turut. Wasit memiliki hak penuh untuk mendiskualifikasi pemain yang melakukan pelanggaran sesuai dengan yang tercantum dalam aturan 5.
  11. Wasit pembantu memperhatikan bola dan mengambil keputusan apabila bola dianggap telah keluar lapangan, pergantian kepemilikan bola, serta menghitung waktu. Wasit pembantu berhak menentukan sah tidaknya suatu gol dan menghitung jumlah gol yang terjadi.
  12. Waktu pertandingan adalah 4 quarter masing-masing 10 menit
  13. Pihak yang berhasil memasukkan gol terbanyak akan dinyatakan sebagai pemenang.

Pada Agustus 1936, saat menghadiri Olimpiade Berlin 1936, ia dinamakan sebagai Presiden Kehormatan Federasi Bola Basket Internasional. Terlahir sebagai warga Kanada, ia menjadi warga negara Amerika Serikat pada 4 Mei 1925.

Naismith meninggal dunia 28 November 1939, kurang dari enam bulan setelah menikah untuk kedua kalinya.

Sampai saat ini perkembangan olahraga Bola Basket sangat pesat serta mengalami beberapa perubahan aturan permainan. Dibawah ini anda dapat mendownload peraturan olahraga bola basket serta beberapa aturan mengenai lapangan dan perlengakapan bola basket. Silahkan anda meng-klik link/tautan dibawah ini :

Peraturan Bola Basket

Lapangan dan Perlengkapan Bola Basket

Perwasitan ( 2 Orang )

Perwasitan ( 3 Orang )

Oleh: goeroendeso | 14 September 2009

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430 H

Ketupat Lebaran

kartu ucapan lebaran ucapan selamat idul fitri 1430H

Oleh: goeroendeso | 13 Agustus 2009

64 Tahun Indonesia Merdeka

hutri-6464 Tahun sudah negara kita tercinta Indonesia Merdeka. Kita wajib bersyukur kepada Allah SWT, karena berkat rahmat-Nya, melalui perjuangan para pahlawan yang tanpa pamrih mengorbankan jiwa, raga dan harta demi satu kata MERDEKA.

Mereka berjuang tanpa adanya pamrih jabatan, tetapi semata-mata membela kehormatan bangsa dan negara dari imperialisme yang sangat menindas dan menginjak-injak harga diri bangsa.

64 Tahun bila kita lihat usia manusia mungkin usia tersebut sudah masuk kategori usia senja. Tetapi bagi suatu bangsa termasuk Indonesia usia 64 Tahun adalah usia yang tengah produktif-produktifnya, penuh semangat layaknya anak muda.

64 Tahun Indonesia Merdeka. Sudah banyak kemajuan yang kita rasakan. Meski kita juga harus jujur mengatakan masih banyak pekerjaan rumah bagi bangsa ini untuk mengejar ketertiggalan dengan bangsa lain. Bila dibandingkan dengan tetangga dekat bangsa ini yang usianya relatif muda dengan usia negara Indonesia, maka kita harus lebih semangat lagi untuk tidak jauh tertinggal dengan mereka.

64 tahun bangsa kita merdeka. Kita jujur sebenarnya kita masih jauh tetinggal dengan mereka tetangga-tetangga dekat kita. Mereka maju disegala bidang, meski mereka lebih muda dengan kita. Kita tidak kalah dengan sumber daya alam, kita tidak kalah dengan sumber daya manusia. Tetapi mereka bisa.

64 tahun bangsa kita merdeka. Masih banyak diantara kita yang bahkan sibuk bersilang pendapat kalau tidak mau kita katakan berselisih. Hanya untuk mendapatkan jabatan, kedudukan dan kekuasaan. Dan rela mengorbankan perasaan rakyat kecil. Rakyat kecil dibuat bingung, meski kadang juga tertawa karena lucu melihat mereka berebut kekuasaan, kedudukan. Layaknya anak kecil yang berebut permen, saling ejek saling cakar-cakaran. Meski baikan lagi. Ada pula yang sibuk mencari keuntungan sendiri meski harus dengan cara yang tidak terpuji.

64 Tahun Indonesia merdeka, mari kita saling instropeksi diri, saling bergandeng tangan, saling berbuat demi kemajuan dan kejayaan bangsa Indonesia, sehingga kita jadi negara yang kuat, yang berwibawa, sehingga tidak ada lagi negara lain yang berani menginjak-injak harga diri bangsa Indonesia, apalagi berani mengambil wilayah negara kita tercinta ini. Kalau kita saling mementingkan diri-sendiri, kasihan bangsa ini, kasihan negara ini, kasihan para pahlawan kita yang telah mengorbankan jiwa, raga dan harta demi memperjuangkan kemerdekaan.

64 Tahun Indonesia merdeka, mari kita berjuang, berbuat sesuai dengan kemampuan dan perananan kita masing-masing demi kejayaan bangsa kita tercinta INDONESIA

DIRGAHAYU KEMERDEKAAN RI KE-64

Oleh: goeroendeso | 12 Agustus 2009

Manajemen Sekolah dengan Pendekatan “SUMARSO”

A. Latar Belakang

Sejak beberapa waktu terakhir, kita dikenalkan dengan pendekatan “baru” dalam manajemen sekolah yang diacu sebagai manajemen berbasis sekolah (school based management) atau disingkat MBS. Di mancanegara, seperti Amerika Serikat, pendekatan ini sebenarnya telah berkembang cukup lama. Pada 1988 American Association of School Administrators, National Association of Elementary School Principals, and National Association of Secondary School Principals, menerbitkan dokumen berjudul school based management, a strategy for better learning. Munculnya gagasan ini dipicu oleh ketidakpuasan atau kegerahan para pengelola pendidikan pada level operasional atas keterbatasan kewenangan yang mereka miliki untuk dapat mengelola sekolah secara mandiri. Umumnya dipandang bahwa para kepala sekolah merasa nirdaya karena terperangkap dalam ketergantungan berlebihan terhadap konteks pendidikan. Akibatnya, peran utama mereka sebagai pemimpin pendidikan semakin dikerdilkan dengan rutinitas urusan birokrasi yang menumpulkan kreativitas berinovasi.

Di Indonesia, gagasan penerapan pendekatan ini muncul belakangan sejalan dengan pelaksanaan otonomi daerah sebagai paradigma baru dalam pengoperasian sekolah. Selama ini, sekolah hanyalah kepanjangan tangan birokrasi pemerintah pusat untuk menyelenggarakan urusan politik pendidikan. Para pengelola sekolah sama sekali tidak memiliki banyak kelonggaran untuk mengoperasikan sekolahnya secara mandiri. Semua kebijakan tentang penyelenggaran pendidikan di sekolah umumnya diadakan di tingkat pemerintah pusat atau sebagian di instansi vertikal dan sekolah hanya menerima apa adanya. Apa saja muatan kurikulum pendidikan di sekolah adalah urusan pusat, kepala sekolah dan guru harus melaksanakannya sesuai dengan petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknisnya.

MBS adalah upaya serius yang rumit, yang memunculkan berbagai isyu kebijakan dan melibatkan banyak lini kewenangan dalam pengambilan keputusan serta tanggung jawab dan akuntabilitas atas konsekuensi keputusan yang diambil. Oleh sebab itu, semua pihak yang terlibat perlu memahami benar pengertian MBS, manfaat, masalah-masalah dalam penerapannya, dan yang terpenting adalah pengaruhnya terhadap prestasi belajar murid.

Ada tiga faktor penyebab rendahnya mutu pendidikan yaitu : kebijakan dan penyelenggaraan pendidikan nasional menggunakan pendekatan educational production function atau input-input analisis yang tidak consisten; 2) penyelenggaraan pendidikan dilakukan secara sentralistik; 3) peran serta masyarakat khususnya orang tua siswa dalam penyelenggaraan pendidikan sangat minim (Husaini Usman, 2002).

Berdasarkan penyebab tersebut dan dengan adanya era otonomi daerah yang sedang berjalan maka kebijakan strategis yang diambil Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah dalam meningkatkan mutu pendidikan untuk mengembangkan SDM adalah : (1) Manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah (school based management) dimana  sekolah diberikan kewenangan untuk merencanakan sendiri upaya peningkatan mutu secara keseluruhan; (2) Pendidikan yang berbasiskan pada partisipasi komunitas (community based education) di mana terjadi interaksi yang positif antara sekolah dengan masyarakat, sekolah sebagai community learning center; dan (3) Dengan menggunakan paradigma belajar atau learning paradigm yang akan menjadikan pelajar-pelajar atau learner menjadi manusia yang diberdayakan. Selain itu pada tanggal 2 Mei 2002, bertepatan hari pendidikan nasional, pemerintah telah mengumumkan suatu gerakan nasional untuk peningkatan mutu pendidikan, sekaligus menghantar perluasan pendekatan Broad Base Education System (BBE) yang memberi pembekalan kepada pelajar untuk siap bekerja membangun keluarga sejahtera. Dengan pendekatan itu setiap siswa diharapkan akan mendapatkan pembekalan life skills yang berisi pemahaman yang luas dan mendalam tentang lingkungan dan kemampuannya agar akrab dan saling memberi manfaat. Lingkungan sekitarnya dapat memperoleh masukan baru dari insan yang mencintainya, dan lingkungannya dapat memberikan topangan hidup yang mengantarkan manusia yang mencintainya menikmati kesejahteraan dunia akhirat

Untuk merealisasikan kebijakan diatas maka sekolah perlu melakukan manajemen peningkatan mutu. Manajemen Peningkatan Mutu (MPM) ini merupakan suatu model yang dikembangkan di dunia pendidikan, seperti yang telah berjalan di Sidney, Australia yang mencakup : a) School Review, b) Quality Assurance, dan c) Quality Control, dipadukan dengan model yang dikembangkan di Pittsburg, Amerika Serikat oleh Donald Adams, dkk. Dan model peningkatan mutu sekolah dasar yang dikembangkan oleh Sukamto, dkk. Dari IKIP Yogyakarta (Hand Out, Pelatihan calon Kepala Sekolah).

Manajemen peningkatan mutu sekolah adalah suatu metode peningkatan mutu yang bertumpu pada sekolah itu sendiri, mengaplikasikan sekumpulan teknik, mendasarkan pada ketersediaan data kuantitatif & kualitatif, dan pemberdayaan semua komponen sekolah untuk secara berkesinambungan meningkatkan kapasitas dan kemampuan organisasi sekolah guna memenuhi kebutuhan peserta didik dan masyarakat. Dalam Peningkatan Mutu yang selanjutnya disingtkat MPM, terkandung upaya a) mengendalikan proses yang berlangsung di sekolah baik kurikuler maupun administrasi, b) melibatkan proses diagnose dan proses tindakan untuk menindak lanjuti diagnose, c) memerlukan partisipasi semua fihak : Kepala sekolah, guru, staf administrasi, siswa, orang tua dan pakar.

Dari uraian diatas penulis mencoba menuangkan gagasan pengelolaan sekolah yang efektif sesuai dengan semangat otonomi sekolah dan manajemen berbasis sekolah dengan satu pendekatan yang penulis sebut dengan pola ”SUMARSO”

B. Ruang Lingkup

Ruang lingkup dari penulisan makalah ini adalah membahas pengelolaan sekolah yang efektif dengan pendekatan pola ”SUMARSO” yang merupakan gagasan dari penulis.

C. Tujuan

Tujuan dari penulisan makalah ini adalah ingin memberikan gagasan tentang pengelolaan sekolah yang efektif dengan pendekatan pola ”SUMARSO” yang merupakan salah satu persyaratan dalam seleksi Calon Kepala Sekolah tahun 2007.

PEMBAHASAN MASALAH

Manajemen pendidikan merupakan bagian dari manajemen pada umumnya karena manajemen bergerak dalam usaha memberikan layanan jasa untuk umum. Selain itu banyaknya beban yang diberikan kepada manajemen sekolah, maka manajemen sekolah terpisah dari manajemen pada umumnya. Hal ini juga terkait dengan karakteristik dari sekolah yang berbeda dengan badan, lembaga atau perusahaan.

Manajemen pendidikan sejalan dengan manajemen pada umumnya dalam pola dan proses kerja, seperti adanya usur-unsur perencanaan, pengorganisasian, dan sebagainya. Manajemen sekolah memiliki kaitan dengan manajemen pendidikan. Manajemen sekolah memiliki hubungan sangat erat dengan manajemen pendidikan. Manajemen sekolah menjalankan berbagai rencana pelaksanaan proses pendidikan dan pengajaran dengan cara sebaik-baiknya. Dengan maksud untuk mewujudkan berbagai tujuan yang telah ditetapkan terlebih dahulu oleh manajemen pendidikan. Manajemen sekolah merupakan perangkat pelaksana, sedangkan kepala sekolah sebagai manajer memiliki beberapa tanggung jawab, diantaranya memberikan arah bagi sekolah dan pelaksanaan berbagai peraturan yang ditetapkan.

Manajemen sekolah selalu memperhatikan segala aspek dari proses pendidikan dan pengajaran. Manajemen sekolah bertanggung jawab mewujudkan suasana yang sesuai dengan perkembangan peserta didik yang sangat kompleks. Dengan demikian, maka manajemen sekolah  memainkan peranan penting dalam penerapan berbagai pola interaksi dalam rangka mewujudkan berbagai tujuan yang diharapkan.

Kepala sekolah sebagai manajer adalah panglima pengawal pendidikan yang melaksanakan fungsi kontrol berbagai pola kegiatan pengajaran dan pendidikan didalamnya. Suksesnya sebuah sekolah tergantung pada sejauh mana pelaksanaan misi yang dibebankan diatas pundaknya. Oleh sebab itu, kepala sekolah harus berupaya mewujudkan kondisi sosial yang mendukung kegiatan sekolah. Demi suksesnya dalam mengemban berbagai beban dan tugas, maka ia harus memiliki beberapa sifat berkaitan dengan kepribadiannya dan profesinya.

Dari uraian diatas penulis mencoba mengajukan gagasan bagaimana mengelola sekolah yang efektif dengan pola yang penulis sebut dengan ”SUMARSO”.

Pola ”SUMARSO” merupakan akronim atau singkatan dari Simple, Unified, Meaningful, Acceptable, Reasonable, Sensible, dan Optimal.

Unsur tersebut penulis anggap merupakan sifat atau pola yang efektif diterapkan dalam mengelola sebuah sekolah.

Untuk lebih jelasnya penulis ingin menguraiakan unsur-unsur pola ”SUMARSO” satu persatu, seperti dibawah ini :

1. SIMPLE

Simple artinya sederhana. Maksud dari sederhana adalah penulis maksudkan bahwa sebagai kepala sekolah dalam menetapkan visi, misi, dan strategi sekolah hendaknya sederhana dan mudah dipahami oleh semua warga sekolah. Kadang ada kepala sekolah yang membuat visi sekolah terlalu kompleks, sehingga pemahaman dari warga sekolah tentang visi sekolah kurang.

Selain sederhana dalam penetapan visi sekolah, seorang kepala sekolah juga harus dapat menerapkan kesederhanaan dalam pengelolaan keuangan sekolah khususnya dalam penyusunan anggaran sekolah. Sederhana disini tidak dimaksudkan untuk asal-asalan tetapi prinsip efisiensi dan penghematan sangat perlu diciptakan tanpa mengabaikan faktor mutu.

Kesederhanaan juga perlu diterapkan dalam kehidupan sekolah sehari-hari. Baik dari pihak kepala sekolah, guru, maupun siswa. Bukan tidak mungkin penampilan yang berlebihan akan membuat suasana yang tidak enak diantara warga sekolah. Seperti contohnya apabila ada guru yang berpenampilan berlebihan, sedangkan ada guru lain yang memang kurang mampu secara ekonomi untuk tampil secara berlebihan, maka kemungkinan terjadi situasi yang tidak sehat dapat muncul. Sehingga timbul suasana yang tidak kondusif yang pada akhirnya tidak dapat mewujudkan teamwork yang solid untuk melaksanakan semua rencana sekolah yang telah ditetapkan.

2. UNIFIED

Unified artinya adalah mempersatukan. Sekolah adalah merupakan sebuah organisasi atau dapat pula diibaratkan sebagai sebuah kapal yang akan berlayar menuju kesebuah pulau tujuan. Kepala sekolah merupakan nahkoda yang harus dapat mempersatukan seluruh anak buah kapal serta penumpang yang ada didalam kapal, sehingga kapal dapat berlayar dengan aman serta dapat melewati seluruh rintangan yang mungkin dihadapi dengan rasa kekeluargaan yang aman dan nyaman.

Syafaruddin (2002:58) berpendapat beberapa pertimbangan yang penting untuk diperhatikan adalah prespektif yang dibutuhkan para pemimpin pendidikan yang meliputi hal-hal berikut, …sense of the whole, rhytme, passion, intensity, and enthusias. Yaitu menumbuhkan rasa kebersamaan, keinginan, semangat, dan potensi dari setiap staff.

3. MEANINGFUL

Meaningful artinya adalah berarti atau penuh arti. Berarti atau penuh arti penulis maksudkan bahwa kepala sekolah dalam menentukan visi, misi dan strategi sekolah selain sederhana juga harus berarti atau penuh arti, sehingga jelas kemana arah serta tujuan sekolah yang dipimpinnya.

Penuh arti juga diterapkan dalam kehidupan sekolah sehari-hari, artinya kepala sekolah harus dapat menciptakan suasana yang menimbulkan kesan positif kepada warga sekolah, sehingga timbul rasa memiliki dan motivasi untuk berprestasi dari semua warga sekolah.

Tindakan konkrit dari kepala sekolah contohnya adalah memberikan penghargaan kepada setiap warga sekolah yang berprestasi serta pujian dengan kata-kata yang berkesan pada warga sekolah, serta memberikan hukuman kepada warga sekolah yang membuat pelanggaran atau kesalahan, tentunya dengan hukuman atau teguran yang bijaksana dan tidak menimbulkan rasa sakit hati.

4. ACCEPTABLE

Acceptable artinya dapat diterima. Dapat diterima disini penulis maksudkan adalah kepala sekolah didalam membuat program kegiatan sekolah atau rencana kegiatan harus secara terbuka serta melibatkan semua unsur sekolah, seperti guru, tata-usaha, perwakilan siswa serta komite sekolah. Sehingga perencanaan atau program yang direncanakan adalah hasil pemikiran semua unsur sekolah, dengan demikian program sekolah dapat diterima oleh semua unsur sekolah.

Selain itu, kepala sekolah juga harus melibatkan semua unsur sekolah dalam menetukan visi, misi dan strategi sekolah agar semua program dan rencana kegiatan untuk mencapai visi sekolah tersebut dapat diterima oleh semua warga sekolah.

5. REASONABLE

Reasonable artinya adalah masuk akal. Dalam menentukan atau mengambil suatu kebijakan, kepala sekolah sebagai pimpinan harus selalu berpedoman kepada hal yang masuk akal serta realistis. Seperti penyusunan RAPBS, RPS, serta visi, misi sekolah, hendaknya dipikirkan bahwa semua yang diputuskan masuk akal dan diterima oleh semua warga sekolah.

6. SENSIBLE

Sensible diartikan dengan bijaksana. Kepala sekolah harus bersikap bijaksana dalam memutuskan sutau kebijakan sekolah tanpa harus kehilangan wibawa. Artinya semua warga sekolah selalu diajak untuk bekerja sama dalam upaya memajukan sekolah. Kepala sekolah juga harus bijaksana memberikan penugasan kepada guru atau pegawai sesuai dengan kemampuan, dan berperinsip memberikan tugas kepada orang yang tepat, sehingga guru yang diberi tugas akan sanggup melaksanakannya dan tujuan dari kegiatan yang direncanakan dapat tercapai.

Bijaksana juga berarti kepala sekolah dalam memberikan teguran harus mempertimbangkan faktor psikologis, seperti tidak memberikan teguran didepan orang banyak sehingga tidak menimbulkan malu dan sakit hati kepada guru atau pegawai yang diberi teguran.

7. OPTIMAL

Optimal dapat dartikan dengan terbaik atau paling menguntungkan. Kepala sekolah harus dapat mengoptimalkan semua potensi sekolah agar dapat menjadi pendukung yang kuat dalam mencapai tujuan sekolah. Guru sebagai ujung tombak keberhasilan pembelajaran harus benar-benar dioptimalkan dan diberdayakan.

Dalam konteks manajemen mutu terpadu pendidikan, pemberdayaan guru termasuk pegawai, salah satunya melalui pembagian tanggung jawab. Disini jelas bahwa keberadaan guru sebagai staf dalam proses pembelajaran dan pengajaran di lembaga pendidikan menjadi salah satu pilar kepemimpinan. Menurut Sallis (1993) dalam Syafaruddin (2002:67) berpendapat, ”a key aspect of leadership role in education to empower teacher to give them the maximum opportunity to improve the learning of their students”

Artinya guru diberi kebebasan dan kesempatan yang maksimal dalam berimprovisasi atau berkreasi dalam proses pembelajaran. Untuk itu, guru-guru harus diberi kekuasaan lebih besar untuk bertindak dan otonomi lebih besar dalam hampir semua yang mereka lakukan. Sudah barang tentu dengan didasarkan pada komitmen untuk mengembangkan budaya mutu bagi sekolah. Pada gilirannya, pemberdayaan guru mengacu pada pemberian kewenangan penuh dalam melakukan perbaikan mutu sejalan dengan budaya mutu yang dikembangkan, sehingga inisiatif, kreatifitas dan sikap proaktifnya tumbuh dengan penuh tanggung jawab bagi sekolah.

Menurut Sue Law dan Derek Glover (2002) dalam Syafaruddin (2002:69) berpendapat bahwa beberapa elemen motivator positif bagi guru dalam proses manajemen pendidikan, yaitu : (1) pengembangan pelajar dan pembelajaran. (2) sikap antusias terhadap mata pelajaran mereka. (3) pengakuan, minat, harga diri, dan dukungan. (4) kesempatan memberikan kontribusi dan pencerahan. (5) kesempatan memberikan tanggung jawab. (6) tantangan terhadap ketrampilan profesional mereka. (7) memberikan inspirasi terhadap yang lain. (8) membuka peluang prospek karier para guru.

Mengoptimalkan semua potensi sekolah termasuk mengoptimalkan potensi guru sebagai ujung tombak proses pembelajaran menjadi sangat berarti dalam peningkatan mutu pembelajaran yang akhirnya dapat membawa kedalam peningkatan mutu sekolah.

Demikian uraian dan gagasan dari penulis sebagai masukan dalam upaya pengelolaan sekolah yang efektif, dengan menggunakan pola ”SUMARSO”. Penulis berharap betapapun sederhana gagasan ini, semoga dapat memberikan inspirasi bagi kepala sekolah maupun calon kepala sekolah dalam mengelola sekolah sehingga tujuan sekolah yang bermutu dapat terwujud.

PENUTUP

Kepemimpinan pendidikan merupakan aspek penting dalam menerapkan manajemen mutu pendidikan. Kepala sekolah menjadi pemeran utama didalamnya. Guru dan pegawai menjadi pendukung tugasnya. Visi, integritas, dan kemampuan menjadi syaratnya. Kepemimpinan menentukan dalam menjawab peluang perubahan kultur mutu pada lembaga pendidikan. Oleh karena itu komitmen manajemen puncak terhadap perbaikan mutu harus menjadi pilar utama.

Kepala sekolah sebagai manajer di sekolah harus kreatif dan inovatif dalam berupaya mengelola sekolah yang efektif dalam rangka meningkatkan mutu pembelajaran serta mutu pendidikan pada umumnya.

Pendekatan pola ”SUMARSO” yang penulis ajukan semoga dapat memberikan inspirasi bagi kita semua dalam rangka mengelola sekolah yang efektif menuju kepada peningkatan mutu.

DAFTAR PUSTAKA

Ath-Thuwairaqi, Nawwaal. (2004). Sekolah Unggulan Berbasis Sirah Nabawiyah. Jakarta : Darul Falah

Depdiknas. (2000). Panduan Manajemen Sekolah, Jakarta : Depdiknas

Sukamto, dkk. (2000). Hand Out Pelatihan Calon Kepala Sekolah. IKIP Jogjakarta

Syafaruddin. (2002). Manajemen Mutu Terpadu dalam Pendidikan Konsep, Strategi, dan Aplikasi. Jakarta : Grasindo

Oleh: goeroendeso | 12 Agustus 2009

Sejarah Olahraga Bola Voli

Gerakan Pasing Atas

Gerakan Pasing Atas

Pada awal penemuannya, olahraga permainan bola voli ini diberi nama Mintonette. Olahraga Mintonette ini pertama kali ditemukan oleh seorang Instruktur pendidikan jasmani (Director of Phsycal Education) yang bernama William G. Morgan di YMCA pada tanggal 9 Februari 1895, di Holyoke, Massachusetts (Amerika Serikat).

William G. Morgan dilahirkan di Lockport, New York pada tahun 1870, dan meninggal pada tahun 1942. YMCA (Young Men’s Christian Association) merupakan sebuah organisasi yang didedikasikan untuk mengajarkan ajaran-ajaran pokok umat Kristen kepada para pemuda, seperti yang telah diajarkan oleh Yesus. Organisasi ini didirikan pada tanggal 6 Juni 1884 di London, Inggris oleh George William.

Setelah bertemu dengan James Naismith (seorang pencipta olahraga bola basket yang lahir pada tanggal 6 November 1861, dan meninggal pada tanggal 28 November 1939), Morgan menciptakan sebuah olahraga baru yang bernama Mintonette. Sama halnya dengan James Naismith, William G. Morgan juga mendedikasikan hidupnya sebagai seorang instruktur pendidikan jasmani. William G. Morgan yang juga merupakan lulusan Springfield College of YMCA, menciptakan permainan Mintonette ini empat tahun setelah diciptakannya olahraga permainan basketball oleh James Naismith. Olahraga permainan Mintonette sebenarnya merupakan sebuah permainan yang diciptakan dengan mengkombinasikan beberapa jenis permainan. Tepatnya, permainan Mintonette diciptakan dengan mengadopsi empat macam karakter olahraga permainan menjadi satu, yaitu bola basket, baseball, tenis, dan yang terakhir adalah bola tangan (handball). Pada awalnya, permainan ini diciptakan khusus bagi anggota YMCA yang sudah tidak berusia muda lagi, sehingga permainan ini-pun dibuat tidak seaktif permainan bola basket.

Perubahan nama Mintonette menjadi volleyball (bola voli) terjadi pada pada tahun 1896, pada demonstrasi pertandingan pertamanya di International YMCA Training School. Pada awal tahun 1896 tersebut, Dr. Luther Halsey Gulick (Director of the Professional Physical Education Training School sekaligus sebagai Executive Director of Department of Physical Education of the International Committe of YMCA) mengundang dan meminta Morgan untuk mendemonstrasikan permainan baru yang telah ia ciptakan di stadion kampus yang baru. Pada sebuah konferensi yang bertempat di kampus YMCA, Springfield tersebut juga dihadiri oleh seluruh instruktur pendidikan jasmani. Dalam kesempatan tersebut, Morgan membawa dua tim yang pada masing-masing tim beranggotakan lima orang.

Dalam kesempatan itu, Morgan juga menjelaskan bahwa permainan tersebut adalah permainan yang dapat dimainkan di dalam maupun di luar ruangan dengan sangat leluasa. Dan menurut penjelasannya pada saat itu, permainan ini dapat juga dimainkan oleh banyak pemain. Tidak ada batasan jumlah pemain yang menjadi standar dalam permainan tersebut. Sedangkan sasaran dari permainan ini adalah mempertahankan bola agar tetap bergerak melewati net yang tinggi, dari satu wilayah ke wilayah lain (wilayah lawan).

Dari waktu kewaktu permainan bola voli senantiasa mengalami perubahan aturan main. Seperti pada saat sekarang kita mengenal adanya pemain libero dalam bola voli.

Untuk lebih lanjut mengetahui Peraturan Permainan Bola Voli, silahkan anda Klik Disini!

Sumber : id.wikipedia.org

Oleh: goeroendeso | 11 Agustus 2009

Phobia (Rasa Takut Yang Berlebihan)

monster1027Sebagai manusia biasa tentunya kita mempunyai rasa takut terhadap sesuatu. Rasa Takut yang berlebihan kadang akan menggangu aktivitas kita sehari-hari. Ada bermacam-macam istilah rasa takut terhadap sesuatu (phobia). Disini saya tuliskan bermacam-macam istilah phobia, yang mungkin ada manfaatnya bagi teman-teman, atau mungkin ingin tahu termasuk phobia apakah teman-teman (semoga nggak ada!)

A-

Ablutophobia- Fear of washing or bathing. (Takut Mencuci atau Mandi)
Acarophobia- Fear of itching or of the insects that cause itching.
Acerophobia- Fear of sourness.
Achluophobia- Fear of darkness. (Takut Kegelapan)
Acousticophobia- Fear of noise.
Acrophobia- Fear of heights. (Takut Ketinggian)
Aerophobia- Fear of drafts, air swallowing, or airbourne noxious substances.
Aeroacrophobia- Fear of open high places.
Aeronausiphobia- Fear of vomiting secondary to airsickness.
Agateophobia- Fear of insanity.
Agliophobia- Fear of pain.
Agoraphobia- Fear of open spaces or of being in crowded, public places like markets. Fear of leaving a safe place.
Agraphobia- Fear of sexual abuse.
Agrizoophobia- Fear of wild animals.
Agyrophobia- Fear of streets or crossing the street. (Takut Jalan Raya atau Menyeberang Jalan)
Aichmophobia- Fear of needles or pointed objects.
Ailurophobia- Fear of cats. (Takut kepada Kucing)
Albuminurophobia- Fear of kidney disease.
Alektorophobia- Fear of chickens.
Algophobia- Fear of pain.
Alliumphobia- Fear of garlic.
Allodoxaphobia- Fear of opinions.
Altophobia- Fear of heights.
Amathophobia- Fear of dust.
Amaxophobia- Fear of riding in a car.
Ambulophobia- Fear of walking.
Amnesiphobia- Fear of amnesia.
Amychophobia- Fear of scratches or being scratched.
Anablephobia- Fear of looking up.
Ancraophobia- Fear of wind. (Anemophobia) – Takut kepada Angin
Androphobia- Fear of men.
Anemophobia- Fear of air drafts or wind.(Ancraophobia)
Anginophobia- Fear of angina, choking or narrowness.
Anglophobia- Fear of England or English culture, etc.
Angrophobia – Fear of anger or of becoming angry.
Ankylophobia- Fear of immobility of a joint.
Anthrophobia or Anthophobia- Fear of flowers.
Anthropophobia- Fear of people or society.
Antlophobia- Fear of floods. (Takut kepada Banjir)
Anuptaphobia- Fear of staying single.
Apeirophobia- Fear of infinity.
Aphenphosmphobia- Fear of being touched. (Haphephobia)
Apiphobia- Fear of bees. (Takut kepada Lebah)
Apotemnophobia- Fear of persons with amputations.
Arachibutyrophobia- Fear of peanut butter sticking to the roof of the mouth.
Arachnephobia or Arachnophobia- Fear of spiders.
Arithmophobia- Fear of numbers.
Arrhenphobia- Fear of men.
Arsonphobia- Fear of fire. (Takut kepada Api)
Asthenophobia- Fear of fainting or weakness.
Astraphobia or Astrapophobia- Fear of thunder and lightning.(Ceraunophobia, Keraunophobia)
Astrophobia- Fear of stars or celestial space.
Asymmetriphobia- Fear of asymmetrical things.
Ataxiophobia- Fear of ataxia. (muscular incoordination)
Ataxophobia- Fear of disorder or untidiness.
Atelophobia- Fear of imperfection.
Atephobia- Fear of ruin or ruins.
Athazagoraphobia- Fear of being forgotton or ignored or forgetting.
Atomosophobia- Fear of atomic explosions.
Atychiphobia- Fear of failure.
Aulophobia- Fear of flutes.
Aurophobia- Fear of gold.
Auroraphobia- Fear of Northern lights.
Autodysomophobia- Fear of one that has a vile odor.
Automatonophobia- Fear of ventriloquist’s dummies, animatronic creatures, wax statues – anything that falsly represents a sentient being.
Automysophobia- Fear of being dirty.
Autophobia- Fear of being alone or of oneself.
Aviophobia or Aviatophobia- Fear of flying. (Takut Terbang) Baca Lanjutannya…

Oleh: goeroendeso | 27 Juli 2009

MGMP Penjasorkes Pandeglang Mengawali Kegiatan

Bertempat di SMPN 2 Pandeglang, pada hari senin 27 Juli 2009, kegiatan MGMP Penjasorkes secara resmi dibuka oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Pandeglang, yang diwakili oleh Kabid SMP Bapak Drs. Nurhasan.

Drs. Nurhasan, Kabid SMP Dinas Pendidikan Kabupaten Pandeglang

Drs. Nurhasan, Kabid SMP Dinas Pendidikan Kabupaten Pandeglang

Pada sambutan pembukaannya beliu memberi wejangan agar guru-guru penjasorkes senantiasa selalu berupaya meningkatkan profesionalismenya, melalu berbagai kegiatan termasuk didalamnya kegiatan MGMP. Kegiatan ini direncanakan akan dilaksanakan sebanyak 8 kali pertemuan, dan membahas berbagai masalah aktual seperti model pembelajaran penjasorkes, model penilaian penjasorkes, penyusunan bahan ajar Penjasorkes, serta pemanfaatan TI dalam pembelajaran Penjasorkes. Dalam laporan yang disampaikan oleh Ketua MGMP Bapak Drs. Asep Sutardi, dilaporkan bahwa kegiatan ini merupakan kegiatan yang rutin dan pada tahun ini kegiatan ini dibiayai dari dana APBN melalui LPMP Provinsi Banten. Meskipun dana tersebut belum cair tetapi dengan penuh kesadaran akan pentingnya peningkatan profesionalisme guru-guru penjasorkes.

Kabid SMP, Didampingi Bapak Warso, M.Pd. Kasi SMP Dindik Kab. Pandeglang

Kabid SMP, Didampingi Bapak Warso, M.Pd. Kasi SMP Dindik Kab. Pandeglang

Kegiatan ini tetap berjalan meskipun dana awal kegiatan ini ditanggung secara swadaya oleh masing-masing anggota. Kegiatan ini diikutu oleh semua guru penjasorkes kabupaten Pandeglang, meskipun baru meliputi rayon 1,2,3 dan 4, karena faktor dana yang dirasakan belum mencukupi.

Seusai memberikan kata sambutan, Kabid SMP, Bapak Drs. Nurhasan langsung menyampaikan materi kebijakan Pemerinth Daerah mengenai pendidikan di Kabupaten Pandeglang. Kegiatan ini sangat disambut positif oleh semua anggota yang hadir, selain sebagai ajang mempererat tali silaturahmi, sharing, juga sebagai ajang untuk belajar mengenai info terbaru berkaitan dengan pembelajaran Penjasorkes. Kita berharap semoga kegiatan ini senatiasa dapat berjalan dan mendapat dukungan yang positif dari semua pihak teramsuk dari Pemda Kab. Pandeglang. Amin…..

Guru Penjasorkes juga bisa serius....

Guru Penjasorkes juga bisa serius....

Pak Tatang, serius pisan euy....

Pak Tatang, serius pisan euy....

Ibu Kokom juga serius nih, apa lagi stress laptopnya errorr, he...he...

Ibu Kokom juga serius nih, apa lagi stress laptopnya errorr, he...he...

Tulisan Sebelumnya »

Kategori