Standar Nasional Perpustakaan Sekolah dan Perguruan Tinggi

4 Desember 2017

Minat baca dalam masyarakat kita mulai merangkak meskipun belum mencapai tahapan yang signifikan. Minat ini perlu ditumbuhkembangkan terus menerus untuk mencapai masyarakat yang cerdas secara religi, intelektual, sosial, dan ekonomi. Sebab membaca merupakan pintu gerbang informasi dan ilmu pengetahuan dan pendukung kecerdasan bangsa.
Dengan membaca sejumlah literatur, diskusi, dan  mengikuti pertemuan ilmiah, sesorang mampu mengasah otak, memeroleh wawasan, dan meningkatkan ilmu pengetahuan. Bacaan besar pengaruhnya terhadap pembentukan pribadi dan kemajuan bangsa. Kiranya tidak ada sejarah yang mencatat kehebatan seseorang yang tidak dibarengi dengan gemar membaca dan melek informasi dalam arti luas.

Kondisi minat baca bangsa kita masih jauh tertinggal dari minat baca bangsa lain. Dari beberapa survei dan penelitian menunjukkan kondisi tersebut. Hal ini antara lain dibuktikan dengan rasio surat kabar dibanding dengan jumlah penduduk. Untuk itu dapat dicermati rasio surat kabar dan penduduk di negara-negara Asean seperti Filipina 1 : 30, Sri Lanka 1 : 38 dan Indonesia 1: 45. Padahal rasio surat kabar dan jumlah penduduk di negara-negara maju telah mencapai rasio 1 : 10. Kondisi ini sangat mungkin bahwa kita bangsa Indonesia ini masih kuat tradisi kelisanannya ( Siahaan 2007: 168).

Membaca sebenarnya merupakan bentuk kebudayaan. Oleh karena itu untuk mengubah masyarakat yang enggan membaca menjadi masyarakat baca/reading society diperlukan adanya perubahan budaya (Tilaar, 1999: 389).

Membaca merupakan usaha penyebaran gagasan dan upaya kreatif. Siklus membaca sebenarnya merupakan siklus mengalirnya ide pengarang ke dalam diri pembaca yang pada gilirannya akan mengalir ke seluruh penjuru dunia melalui tulisan (buku, artikel, makalah seminar, hasil penelitian) dan rekaman lain.

Kemampuan dan ketrampilan membaca memengaruhi pembentukan kepribadian seseorang. Sebab membaca itu merupakan proses psikologis dan fisiologis yang menentukan terbentuknya manusia yang mampu memengaruhi dunia melalui pikiran-pikiran mereka. Bagi mereka, membaca pada hakekatnya merupakan proses pendidikan nonformal yang hasilnya kadang-kadang lebih baik daripada pendidikan formal. Bung Karno, Mahatma Gandhi, Hamka, dan  John F. Kennedy konon merupakan tokoh-tokoh yang memiliki kemampuan dan ketrampilan baca yang tinggi.

Tampaknya membaca (terutama membaca buku) belum dirasakan sebagai suatu kebutuhan sehari-hari. Budaya mendengarkan, berbicara, dan bertanya masih kental dalam masyarakat kita. Dady P. Rahmananta (Kepala Perpustakaan Nasional RI) menyatakan bahwa pengunjung Perpustakaan Nasional dan Perpustakaan Daerah (sekarang BPAD) di seluruh Indonesia relatif rendah dan hanya 10 ? 20 % dari jumlah pengunjung yang meminjam buku (Siahaan, 2007: 175).

Kurangnya kesadaran pemanfaatan perpustakaan oleh masyarakat umum masih bisa dipahami. Tetapi kalau tenaga pendidikan (guru, dosen, kiyai) tidak memanfaatklan perpustakaan, ini  berarti suatu keprihatinan tersendiri. Penelitian Loehoer Widjajanto dkk (2007)  di Surakarta, Cilacap, dan Grobogan menyatakan bahwa guru-guru di daerah itu hanya 4,6 % yang memanfaatkan fasilitas perpustakaan daerah (kabupaten, kecamatan, kalurahan, dll.) 36,9 % kadang-kadang, dan guru yang tak pernah memanfaatkan perpustakaan ada 58,5 %.
Membaca dan melek informasi memang belum menjadi prioritas utama masyarakat kita. Mereka lebih senang bertanya dan mendengarkan daripada membaca dan berpikir dalam menghadapi persoalan tertentu. Membaca seharusnya menjadi prasyarat utama untuk menuju masyarakat pembelajar/learning society. Hal ini merupakan ciri masyarakat modern dan merupakan tuntutan kemajuan jaman dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. (Sumber : Perpustakaan Nasional Republik Indonesia)

Dari uraian diatas, keberadaan Perpustakaan dalam kehidupan bangsa sangatlah penting. Agar fungsi perpustakaan dapat secara optimal dan signifikan meningkatkan minat baca yang pada akhirnya akan mencerdaskan bangsa, tentunya sangat diperlukan aturan-aturan atau standar tentang perpustakaan, tidak terkecuali standar perpustakaan disatuan pendidikan maupun perguruan tinggi.

Untuk itu Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia telah menerbitkan peraturan tentang Standar Perpustakaan di Satuan Pendidikan maupun di Perguruan Tinggi.

Untuk mengunduh peraturan tersbut, silahkan klik tautan dibawah ini :

  1. Perka Perpustakaan Nasional No. 10 Tahun 2017 Tentang Standar Nasional Perpustakaan SD-MI
  2. Perka Perpustakaan Nasional No. 11 Tahun 2017 Tentang Standar Nasional Perpustakaan SMP-MTs
  3. Perka Perpustakaan Nasional No. 12 Tahun 2017 Tentang Standar Nasional Perpustakaan SMA-MA
  4. Perka Perpustakaan Nasional No. 13 Tahun 2017 Tentang Standar Nasional Perpustakaan Perguruan Tinggi