28 Oktober 2015

Welcome To My Blog, Selamat Datang, Sugeng Rawuh, Wilujeng Sumping…

Inilah blog saya, saya mengundang anda untuk ikut memberikan apapun, tanggapan, kritikan, atau saran dan masukan terhadap isi dari blog saya ini.

Karena saya menganggap, semua itu adalah pemacu untuk lebih baik lagi dalam mengelola blog atau rumah kedua saya ini, serta sarana menjalin tali silaturahmi dengan teman-teman dimanapun berada, meskipun tidak bisa bertatap mata.

Oke, selamat datang di blog saya, selamat membaca atau mungkin mengambil bahan-bahan yang dirasakan bermanfaat dan anda butuhkan.

Terimakasih, Haturnuhun, arigato, maturnembah nuwun……

Sumarso

Pengawas SMP, Disdikbud Kab. Pandeglang, Banten.


Indahnya Berbagi

17 September 2015


Modul Diklat Penguatan Kepala Sekolah

24 September 2019

Secara etimologi, kepala sekolah merupakan padanan dari school principal yang tugas kesehariannya menjalankan principalship atau kekepalasekolahan. Istilah kekepalasekolahan mengandung makna sebagai segala sesuatu yang berkaitan dengan tugas pokok dan fungsi sebagai kepala sekolah. Penjelasan ini dipandang penting, karena terdapat beberapa istilah untuk menyebut jabatan kepala sekolah, seperti administrasi sekolah (school administrator), pimpinan sekolah (school leader), manajer sekolah (school manajer), dan sebagainya.

Tugas utama kepala sekolah sebagai pemimpin adalah mengatur situasi, mengendalikan kegiatan kelompok, organisasi atau lembaga, dan menjadi juru bicara kelompok. Dalam melaksanakan tugas dan fungsinya, terutama untuk memberdayakan masyarakat dan lingkungan sekitar, kepala sekolah dituntut untuk berperan ganda, baik sebagai catalyst, solution givers, process helpers, dan resource linker.

Berdasarkan Permendikbud No. 15 Tahun 2018 Tentang Pemenuhan Beban Kerja Guru, Kepala Sekolah, dan Pengawas Sekolah Pasal 9, dijelaskan bahwa Beban Kerja Kepala Sekolah sepenuhnya untuk melaksanakan tugas : a) manajerial; b) pengembangan kewirausahaan; dan c) supervisi kepada Guru dan tenaga kependidikan.

Pada Permendikbud No. 6 Tahun 2018 Tentang Penugasan Guru Sebagai Kepala Sekolah pada Pasal 21, huruf e, disebutkan bahwa Kepala Sekolah yang sedang menjabat sebagaimana dimaksud dalam huruf a yang belum memiliki Surat Tanda Tamat Pendidikan dan Pelatihan Calon Kepala Sekolah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (7). wajib mengikuti dan lulus pendidikan dan pelatihan penguatan Kepala Sekolah.

Berikut saya sediakan modul-modul yang digunakan dalam diklat penguatan Kepala Sekolah. Untuk mengunduhnya, silahkan klik tautan dibawah ini :

00. Literasi Digital-PKS-26042019 final

01. Teknik Analisis Manajemen-PKS-26042019 final

02. Pengembangan RKS-PKS-26042019 final

03. Pengelolaan Keuangan-PKS-26042019 final

04. Pengelolaan Kurikulum-PKS-26042019 final

05. Sarana Prasarana-PKS-26042019 final

06. Pengelolaan Peserta Didik-PKS-26042019 april final

07. Pengelolaan PTK_PKS_26042019 final

08. Supervisi dan PK Guru_26042019

09. Supervisi dan PK Tendik-PKS-26042019

10. Rencana PKB-PKS-26042019

11. Kepemimpinan Perubahan-PKS-26042019

12 Pengembangan Kewirausahaan layout Pusdiklat 160419 (1)

13 Pengembangan Sekolah Berdasar 8 SNP-PKS-26042019

 

Demikian modul penguatan Kepala Sekolah, semoga bermanfaat.


Membangun Bangsa Yang Literat dari Keluarga

10 September 2019

Disadari atau tidak, diakui atau tidak, suka atau tidak, kita telah memasuki kehidupan abad 21 yang penuh dengan kemajuan terutama kemajuan pada bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, terutama teknologi informasi dan komunikasi.

Kehidupan abad 21 ini juga berimbas pada kehidupan bidang pendidikan bagi anak-anak kita.

Perubahan fokus kebijakan pendidikan yang mengarah pada kecakapan abad ke-21 (literasi, kompetensi, dan karakter) diformulasikan dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti. Permendikbud ini kemudian menginisiasi lahirnya Gerakan Indonesia Membaca dan Gerakan Literasi Sekolah. Gerakan Indonesia Membaca melingkupi gerakan literasi di ranah masyarakat dan keluarga, sementara Gerakan Literasi Sekolah mencakup gerakan literasi di lingkungan sekolah.

Pada saat sekarang, ada enam literasi dasar yang sangat penting untuk dikuasai oleh kita, apalagi pada saat sekarang dimana kita sudah memasuki pada kehidupan abad ke-21. Literasi dasar itu mencakup : Litersai Baca Tulis, Literasi Numerasi, Literasi Finansial, Literasi Digital, Literasi Sain, serta Literasi Budaya dan Kewargaan.

Literasi Baca Tulis. Literasi baca-tulis terkait dengan kemampuan untuk mengidentifikasi, menentukan, menemukan, mengevaluasi, menciptakan secara efektif

dan terorganisasi, menggunakan dan mengomunikasikan informasi untuk mengatasi bermacam-macam persoalan.

Literasi Numerasi. Literasi numerasi adalah pengetahuan dan kecakapan untuk (a) menggunakan berbagai macam angka dan simbol-simbol yang terkait dengan matematika dasar untuk memecahkan masalah praktis dalam berbagai macam konteks kehidupan sehari-hari dan (b) menganalisis informasi yang ditampilkan dalam berbagai bentuk (grafik, tabel, bagan, dsb.) lalu menggunakan interpretasi hasil analisis tersebut untuk memprediksi dan mengambil keputusan.

Literasi Finansial. Literasi finansial adalah pengetahuan dan kecakapan untuk mengaplikasikan pemahaman tentang konsep dan risiko, keterampilan agar dapat membuat keputusan yang efektif dalam konteks finansial untuk meningkatkan kesejahteraan finansial, baik individu maupun sosial, dan dapat berpartisipasi dalam lingkungan masyarakat.

Literasi Digital menurut UNESCO dalam Buku Literasi Digital Keluarga Teori dan Praktik Pendampingan Orangtua terhadap Anak dalam Berinternet disebutkan bahwa literasi digital adalah kemampuan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) untuk menemukan, mengevaluasi, memanfaatkan, membuat dan mengkomunikasikan konten atau informasi, dengan kecakapan kognitif, etika, sosial emosional dan aspek teknis atau teknologi.

Literasi Sains. Literasi sains dapat diartikan sebagai pengetahuan dan kecakapan ilmiah untuk mampu mengidentifikasi pertanyaan, memperoleh pengetahuan baru, menjelaskan fenomena ilmiah, serta mengambil simpulan berdasar fakta, memahami karakteristik sains, kesadaran bagaimana sains dan teknologi membentuk lingkungan alam, intelektual, dan budaya, serta kemauan untuk terlibat dan peduli terhadap isu-isu yang terkait sains (OECD, 2016)

Literasi Budaya dan Kewargaan. Literasi budaya merupakan kemampuan dalam memahami dan bersikap terhadap kebudayaan Indonesia sebagai identitas bangsa.

Sementara itu, literasi kewargaan adalah kemampuan dalam memahami hak dan kewajiban sebagai warga negara. Dengan demikian, literasi budaya dan kewargaan merupakan kemampuan individu dan masyarakat dalam bersikap terhadap lingkungan sosialnya sebagai bagian dari suatu budaya dan bangsa.

Salah satu di antara enam literasi dasar yang perlu kita kuasai adalah literasi baca-tulis. Membaca dan menulis merupakan literasi yang dikenal paling awal dalam sejarah peradaban manusia. Keduanya tergolong literasi fungsional dan berguna besar dalam kehidupan sehari-hari. Dengan memiliki kemampuan baca-tulis, seseorang dapat menjalani hidupnya dengan kualitas yang lebih baik. Terlebih lagi di era yang semakin modern yang ditandai dengan persaingan yang ketat dan pergerakan yang cepat. Kompetensi individu sangat diperlukan agar dapat bertahan hidup dengan baik.

Kebiasaan Membaca Pada Siswa (Dokumen Pribadi)

Membaca merupakan kunci untuk mempelajari segala ilmu pengetahuan, termasuk informasi dan petunjuk sehari-hari yang berdampak besar bagi kehidupan. Ketika menerima resep obat, dibutuhkan kemampuan untuk memahami petunjuk pemakaian yang diberikan oleh dokter. Jika salah, tentu akibatnya bisa fatal. Oleh karena itu penguatan serta penanaman gerakan literasi baca dan tulis dalam lingkungan keluarga merupakan hal yang sangat penting untuk dilakukan.

Salah satu pemikiran Ki Hadjar Dewantara adalah Tri Pusat Pendidikan. Beliau berpendapat bahwa pendidikan menjadi tanggung jawab bersama tiga komponen yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat. Ketiga komponen tersebut harus saling bersinergi untuk mewujudkan tujuan pendidikan. Keluarga merupakan komponen yang pertama dan utama. Berawal dari keluargalah pendidikan bagi generasi bangsa dimulai. Keluarga mempunyai peranan yang sangat strategis dalam pendidikan, terutama dalam penanaman nilai-nilai karakter bagi anak sebagai generasi penerus bangsa. Dalam keluargalah akan ditanamkan nilai-nilai moral, norma-norma sosial, etika, dan kebiasaan-kebiasaan bagi anak, termasuk pembiasaan dan penanaman literasi baca tulis. Beberapa usaha atau kegiatan yang bisa dilakukan dalam keluarga dalam rangka memperkuat literasi bagi anak-anak adalah sebagai berikut :

 

1. Menerapkan waktu khusus untuk kegiatan membaca

Orang tua bisa membuat aturan bagi anak-anaknya dirumah, untuk memanfaatkan waktu tertentu khusus untuk membaca buku, tidak boleh membuka gadget, tidak boleh menonton televisi misalnya. Orang tua membuat aturan misalnya setiap malam dari pukul 18.00 s.d. 20.00 semua anggota keluarga tidak boleh membuka gadget, menonton televisi, dan hanya diperbolehkan untuk membaca buku bersama di ruang keluarga. Setelah itu setiap anggota keluarga diminta untuk menceritakan kepada anggota keluarga yang lain tentang isi buku yang telah dibacanya. Anggota keluarga yang lain bisa saling menanggapi tentang apa yang telah dibaca baik oleh anak, ibu, maupun bapak. Memang sepertinya lucu dan terlalu mengada-ada. Namun bila kebiasaan ini diterapkan dan menjadi kebiasaan dalam keluarga, maka keakraban, kehangatan dalam keluarga bisa terjaga. Hal yang sangat penting yang lainnya adalah anak-anak akan terbiasa untuk dapat mengkritisi semua apa yang didapatnya dari membaca. Anak tidak mudah percaya kepada hal-hal tanpa ditelaah dan dikaji terlebih dahulu. Kebiasaan ini akan menjauhkan dan menjaga anak dari berita-berita yang belum tentu benar atau hoax.

2. Memberikan bingkisan, kado, hadiah berupa buku atau bacaan yang menarik

Secara psikologis, anak akan merasa sayang dan menjaga terhadap pemberian barang atau hadiah dari orang yang dicintainya. Begitu pula pemberian atau bingkisan dari orang tuanya. Bingkisan atau kado biasanya diberikan pada saat ulang tahun atau pada saat anak mendapatkan juara baik juara kelas maupun juara pada perlombaan-perlombaan.

Mengapa tidak, mulai sekarang digalakan dan dibiasakan untuk memberikan bingkisan atau kado berupa buku untuk anak-anak kita?

Bingkisan buku dapat berupa buku cerita, novel, biografi atau komik. Yang terpenting bingkisan berupa buku tersebut akan memberikan kebiasaan dan kegemaran anak untuk membaca buku. Memberikan bingkisan atau kado berupa buku, juga dapat dilakukan kepada tetangga atau saudara kita. Bila hal itu dapat dilakukan mulai dari keluarga dan meluas pada masyarakat, maka budaya gemar membaca buku mudah-mudahan dapat ditanamkan pada masyarakat kita.

3. Mengajak anak-anak untuk berkunjung ke Perpustakaan

Pada saat sekarang, sudah sangat jarang sebuah keluarga yang terdiri atas bapak, ibu dan anak-anaknya untuk berkunjung ke perpustakaan, bahkan bisa dikatakan sangat langka, kalo tidak ingin dikatakan tidak ada. Kita lebih sering melihat keluarga memanfaatkan waktu untuk berjalan-jalan di mal, rumah makan atau tempat wisata lainnya. Padahal kita tahu bahwa perpustakaan merupakan gudang koleksi dan sumber pengetahuam dalam bentuk buku, majalah, serta sumber bacaan yang lain.

Perpustakaan bisa menjadikan sumber inspirasi bagi keluarga, bisa menjadikan tempat untuk refreshing, serta bisa menjadikan anak-anak lebih mengenal buku yang pada akhirnya cinta dan gemar untuk membaca buku. Melalui koleksi buku di perpustakaan, anak akan dibiasakan mencari berbagai sumber informasi yang dibutuhkan. Kebiasaan membaca buku inilah yang akan menjadikan anak memiliki karakter ingin tahu, dan kritis terhadap segala permasalahan. Anak akan terbiasa Tabayun, atau mencari jawaban dan informasi sebelum memutuskan untuk melakukan atau menanggapi sesuatu permasalahan.

Mengapa tidak, mulai sekarang orang tua menjadikan perpustakaan sebagai destinasi tujuan wisata bagi anggota keluarga. Selain murah, bermanfaat, tentunya menambah khazanah pengetahuan anak.

4. Kegiatan membacakan buku cerita untuk anak

Pada saat ini dimana gadget sudah seperti barang kebutuhan sehari-hari, sudah sangat jarang atau bahkan tidak ada, seorang ibu yang menidurkan anaknya dengan mendongeng atau membacakan buku cerita. Kebiasaan itu mungkin sudah menjadi cerita masa lalu. Pada saat sekarang, mungkin orang tua akan menghantarkan anaknya tidur dengan diputarkan musik melalui gadget. Padahal kebiasaan membacakan buku oleh orang tua untuk anak-anaknya akan memberikan pengaruh positif kepada anak. Anak akan terbiasa mendengarkan orang lain berbicara, dan itu merupakan nilai karakter menghargai pendapat orang lain. Melalui mendengarkan bacaan buku, anak akan terasah daya imajinasinya dan melatih respon otak untuk menjadi kritis. Membacakan buku cerita kepada anak, juga merupakan langkah memperkenalkan buku kepada anak yang pada akhirnya anak akan merasa cinta dengan buku dan memperkuat kebiasaan berliterasi, terutama literasi baca tulis.

Memperkenalkan buku pada anak sejak dini, akan membangun kebiasaan yang baik dalam mengembangkan pengetahuan dan membuat anak kaya akan kosa kata dan pada akhirnya anak menjadi pandai dalam menulis dan membaca dengan menggunakan bahasa yang baik dan benar. (Kemendikbud, 2019)

Seperti pendapat dari Hendrik Efriyadi, dalam artikel yang berjudul Menumbuhkan Minat Baca Sejak Dini yang dimuat dalam situs Sahabat Keluarga, menuliskan bahwa membaca akan membuat anak lebih kaya perbendaharaan kosakata, memperlancar kemampuan berbicara, menambah pengetahuan di luar yang diajarkan orangtua dan lingkungan, menambah motivasi, meningkatkan kreativitas dan satu lagi, dengan membaca akan mempengaruhi karakter anak. Sebaliknya, anak-anak yang kesehariannya hanya diisi dengan menonton televisi dan bermain game, mereka akan berpotensi besar tumbuh menjadi anak yang manja, egois dan individualis.

Uraian diatas menunjukan betapa pentingnya pembiasaan literasi bagi anak-anak yang dapat dimulai dalam lingkungan yang pertama dan utama, yaitu lingkungan keluarga.

Fakta menunjukan bahwa Negara-negara maju di dunia, salah satunya adalah ditunjukan dengan kebiasaan literasi terutama baca buku warga negaranya yang tinggi. Negara maju biasanya ditunjang dan ditunjukan dengan warga negaranya yang literat.

Betapa penting dan utamanya peran keluarga untuk membangun Bangsa Indonesia agar menjadi bangsa yang literat yang akan membawa Indonesia sejajar dengan bangsa-bangsa lain yang sudah maju. Semoga. #SahabatKeluarga, #LiterasiKeluarga

 

Kepustakaan :

Efriyandi, Hendrik (2018). Menumbuhkan Minat Baca Sejak Dini.  https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/laman/index.php?r=tpost/xview&id=4762 Diakses : 5 September 2019, 8:27 PM

Kemendikbud. (2019). Menumbuhkan Minat Baca Anak Seri Pendidikan Orang Tua. Jakarta

Kurnia, Novi. (2017). Literasi Digital Keluarga Teori dan Praktik Pendampingan Orangtua terhadap Anak dalam Berinternet. Center For Digital Society (CfDS) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada : Yogyakarta

OECD (2016), PISA 2015 Assessment and Analytical Framework: Science, Reading, Mathematic and FinancialLiteracy, PISA

 

#SahabatKeluarga

#LiterasiKeluarga


Mengenal ISBN

7 Juli 2019

ISBN (International Standard Book Number) adalah kode pengidentifikasian buku yang bersifat unik. Informasi tentang judul, penerbit, dan kelompok penerbit tercakup dalam ISBN. ISBN terdiri dari deretan angka 13 digit, sebagai pemberi identifikasi terhadap satu judul buku yang diterbitkan oleh penerbit. Oleh karena itu satu nomor ISBN untuk satu buku akan berbeda dengan nomor ISBN untuk buku yang lain.

ISBN diberikan oleh Badan Internasional ISBN yan berkedudukan di London. Di Indonesia, Perpustakaan Nasional RI merupakan Badan Nasional ISBN yang berhak memberikan ISBN kepada penerbit yang berada di wilayah Indonesia. Perpustakaan Naasional RI mempunyai fungsi memberikan informasi, bimbingan dan penerapan pencantuman ISBN serta KDT (Katalog Dalam Terbitan). KDT merupakan deskripsi bibliografis yang dihasilkan dari pengolahan data yang diberikan penerbit untuk dicantumkan di halaman balik judul sebagai kelengkapan penerbit.

Fungsi ISBN

  1. Memberikan identitas terhadap satu judul buku yang diterbitkan oleh penerbit
  2. Membantu memperlancar arus distribusi buku karena dapat mencegah terjadinya kekeliruan dalam pemesanan buku
  3. Sarana promosi bagi penerbit karena informasi pencantuman ISBN disebarkan oleh Badan Nasional ISBN Indonesia di Jakarta, maupun Badan Internasional yang berkedudukan di London

Struktur ISBN

Nomor ISBN terdiri dari 13 digit dan dibubuhi huruf ISBN didepannya. Nomor tersebut terdiri atas 5 (lima) bagian. Masing-masing bagian dicetak dengan dipisahkan dengan tanda hyphen (-). Kelompok pembagian nomor ISBN ditentukan dengan struktur sebagai berikut:

Contoh : ISBN 978-602-8519-93-9

Maksudnya adalah :

 

  •  Angka pengenal produk terbitan buku dari EAN (Prefix identifier) = 978
  • Kode kelompok (group identifier) = 602 (Default)
  • Kode penerbit (publisher prefix) = 8519
  • Kode Judul (title identifier) = 93
  • Angka pemeriksa (check digit) = 9

 

Terbitan yang dapat diberikan ISBN

  1. Buku tercetak (monografi) dan pamphlet
  2. Terbitan Braille
  3. Buku peta
  4. Film, video, dan transparansi yang bersifat edukatif
  5. Audiobooks pada kaset, CD, atau DVD
  6. Terbitan elektronik (misalnya machine-readable tapes, disket, CD-ROM dan publikasi di Internet)
  7. Salinan digital dari cetakan monograf
  8. Terbitan microform
  9. Software edukatif
  10. Mixed-media publications yang mengandung teks

Terbitan yang tidak dapat diberikan ISBN

  1. Terbitan yang terbit secara tetap (majalah, bulletin, dsb.)
  2. Iklan
  3. Printed music
  4. Dokumen pribadi (seperti biodata atau profil personal elektronik)
  5. Kartu ucapan
  6. Rekaman musik
  7. Software selain untuk edukasi termasuk game
  8. Buletin elektronik
  9. Surat elektronik
  10. Permainan

Pencantuman ISBN

ISBN ditulis dengan huruf cetak yang jelas dan mudah dibaca. Singkatan ISBN ditulis dengan huruf besar mendahului penulisan angka pengenal kelompok, pengenal penerbit, pengenal judul dan angka pemeriksa. Penulisan antara setiap bagian pengenal dibatasi oleh tanda penghubung, seperti contoh berikut:

ISBN 978-602-8519-93-9

Untuk terbitan cetak, ISBN dicantumkan pada:

  1. Bagian bawah pada sampul belakang (back cover)
  2. Verso (dibalik halaman judul) (halaman copyright)
  3. Punggung buku (spine) untuk buku tebal , bila keadaan memungkinkan

Sumber : Perpustakaan Nasional (https://isbn.perpusnas.go.id/Home/InfoIsbn)

Demikian informasi singkat tentang ISBN, semoga bermanfaat.


Logo HUT RI Ke-74 Tahun 2019

7 Juli 2019

Seperti pada tahun-tahun sebelumnya, dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan Republik Indonesia, pemerintah selalu membuat Logo khusus untuk peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia yang diperungati setiap tanggal 17 Agusutus.
Pada tahun 2019 ini, kita semua bangsa Indonesia akan memperingati HUT kemerdekaan yang ke-74. Mungkin diantara kita sudah ada yang melakukan persiapan khusus untuk menyambut HUR RI tersebut.
Pemerintah melalui Kementerian Sekretariat Negara telah meluncurkan Logo Resmi dan Tema HUT RI ke-74 seperti dibawah ini :

  1. Tema dan Logo Peringatan Hari Ulang Tahun Ke-74 Kemerdekaan Republik lndonesia Tahun 2019 [download]
  2. Partisipasi Menyemarakkan Bulan Kemerdekaan Tahun 2019 [download]
  3. Salinan Keputusan Menteri Sekretaris Negara Nomor 174 tahun 2019 – Pembentukan Panitia Pelaksana HUT Ke-74 Kemerdekaan RI Tahun 2019 [download]
  4. Logo HUT RI (.ai) [download]
  5. Logo HUT RI warna merah (.jpg) [download]
  6. Logo HUT RI warna putih (.jpg) [download]
  7. Logo HUT RI warna hitam (.png) [download]
  8. Logo HUT RI warna merah (.png) [download]

Demikian informasi singkat meneganai Logo HUT RI ke-74, semoga bermanfaat


Cara Penulisan Daftar Pustaka

7 Juli 2019

Salah satu syarat dalam penulisan sebuah karya tulis ilmiah adalah mencantumkan sumber rujukan yang jelas pada tulisan kita. Semua sumber ruujukan harus ditulis dalam kepustakaan atau Daftar Pustaka. Secara umum tata cara penulisan Daftar Pustaka adalah, sbb :

  1. Daftar Pustaka disusun berdasarkan alfabetis tanpa nomor.
  2. Penulisan daftar pustaka dengan spasi single ( 1 Spasi )
  3. Pencantuman sumber dengan nama penulis yang sama dan judul tulisan berbeda, nama penulis ditulis lengkap.
  4. Jika terdapat sumber berbeda dari satu penulis pada tahun yang sama maka di belakang tahun terbit diberi huruf a, b, c, dan seterusnya.

Petunjuk penulisan untuk masing-masing sumber adalah sebagai berikut :

Terbitan Berkala/Majalah Ilmiah dengan Volume dan Nomor

Nama penulis. Tahun terbit. Judul tulisan. Nama Terbitan, Volume (Nomor) : Halaman.

Contoh :

Yondri, Lutfi. 2014. Struktur Punden Berundak Gunung Padang. Purbawidya, 3 (2): 75-88.

Terbitan Berseri :

Nama penulis. Tahun terbit. Judul tulisan. Nama Terbitan, Nomor Seri: Halaman. Kota terbit: Penerbit.

Contoh :

Lukmana, Iwa. 2005. Sundanese Speech Levels. Seri Sundalana, 04 Islam dalam

Kesenian Sunda: 115-148. Bandung: Kiblat.

Mundardjito. 1990. Metode Penelitian Permukiman Arkeologis. Seri Penerbitan Ilmiah, 11 edisi khusus Monumen Karya Persembahan untuk Prof. Dr. R. Sukmono : 19-31. Depok : Fakultas Sastra Universitas Indonesia.

Buku (satu penulis) :

Nama penulis. Tahun terbit. Judul Buku. Kota terbit: Penerbit.

Contoh :

Adimihardja, Kusnaka. 1992. Kasepuhan Yang Tumbuh di Atas Yang Luruh. Bandung:Tarsito.

Buku (dua sampai tiga penulis) :

Nama penulis 1, 2, 3. Tahun terbit. Judul Buku. Kota terbit: Penerbit.

Penulis (2 Orang) :

Hers, Norman dan Garrison, Ervan G. 1998. Geological Methods for Archaeology. Oxford: Oxford University Press.

Penulis (3 Orang)

Danasasmita, Saleh., Iskandar, Yosef., dan Atmadibrata, Enoch. 1983/1984. Rintisan Penelusuran Masa Silam Sejarah Jawa Barat Jilid I. Bandung: Proyek Penerbitan Buku Sejarah Jawa Barat, Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Buku (empat penulis atau lebih)

Nama penulis 1., dkk. Tahun terbit. Judul Buku. Kota terbit: Penerbit.

Maryanto, Ibnu., dkk. 2007. Nama Daerah Mamalia di Indonesia. Jakarta: LIPI Press.

Buku yang Ditulis Atas Nama Lembaga

Nama lembaga. Tahun terbit. Judul Buku. Kota terbit: Penerbit.
Contoh :

UNESCO-IBE. 2000. Globalization and Living Together: The Chalanges for Educational Content in Asia. New Delhi: UNESCO – Central Board of Secondary Education, India.

Bunga Rampai

Nama penulis. Tahun terbit. Judul tulisan. Dalam Nama editor (Ed.). Judul Bunga Rampai: Halaman. Kota terbit: Penerbit.
Contoh :

Rouse, Irving. 1971. The Classification of Artifact in Archaeology. Dalam James Deets (Ed.). Mans Imprint from the Past: 108-125. Boston: Little Brown and Company.

Prosiding

Nama penulis. Tahun terbit. Judul tulisan. Judul prosiding: Halaman. Kota penyelenggaraan seminar, Tanggal seminar: Penyelenggara.
Contoh :

Wibisono, Sonny C. 2013. Menentukan Manfaat Arkeologis Melalui Pemahaman Nilai Penting Hasil penelitian. Prosiding Seminar Nasional Dalam Rangka 100 Tahun Purbakala. Potensi Arkeologi dan Pemanfaatannya untuk Masyarakat Luas: 1 – 5. Bandung, 26-28 Agustus 2013: Balai Arkeologi Bandung.

Skripsi, Tesis, Disertasi

Nama penulis. Tahun pengesahan. Judul Skripsi, Tesis, Disertasi. Skripsi/Tesis/Disertasi, Fakultas/Program Studi. Kota kedudukan: Perguruan Tinggi.
Contoh :

Hermawan, Iwan. 2008. Kearifan Lokal Sunda Dalam Pendidikan (Kajian Terhadap Aktualisasi Nilai-nilai Tradisi Sunda Dalam Pendidikan IPS di Sekolah Pasundan dan Yayasan Atikan Sunda). Disertasi, Sekolah Pascasarjana. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.

Laporan Penelitian

Nama penulis. Tahun pelaporan. Judul Penelitian. Laporan Penelitian. Kota kedudukan:Instansi.

Sudarti. 2009. Masa Klasik Tarumanegara di Wilayah Pandeglang Provinsi Banten. Laporan Hasil Penelitian Arkeologi. Bandung: Balai Arkeologi Bandung.

Media Massa Cetak (Tanpa Penulis)

Judul tulisan. Tahun terbit. Media Massa. Tanggal terbit: Halaman.

Kemenyan Barus Untuk Sang Raja. 2013. Kompas. 29 Desember: 1

Media Massa Cetak (Terdapat nama Penulis)

Nama penulis. Tahun terbit. Judul tulisan. Media Massa. Tanggal terbit: Halaman.

Ekadjati, Edi S. 2004. Pendidikan di Tatar Sunda (1). Pikiran Rakyat. 20 November: 16.

Tulisan Bersumber dari Internet (Tanpa Nama Penulis)

Judul tulisan. Tahun terbit. (Alamat Web Lengkap, diakses: tanggal akses).

Sisa-sisa Fosil Tyrannosaurus Mini Ditemukan di Arktik. 2014. (http://nationalgeographic.co.id/berita/2014/03/sisa-sisa-fosil-t-rex-miniditemukan-di-arktik, diakses 19 Maret 2014).

Tulisan Bersumber dari Internet (Terdapat Nama Penulis)

Nama penulis. Tahun terbit (diunggah). Judul tulisan. (Alamat Web Lengkap, diakses:tanggal akses).

Hunter, K. (1988). Herritage Education in the Social Studies. (http://www.ed.gov/databases/ERICDigest/Index/ED30036, diakses 9 Januari 2002).

Makalah dalam Pertemuan Ilmiah, Kongres, Simposium, atau Seminar yang belum Diterbitkan:

Nama penulis. Tahun penyelenggaraan. Judul tulisan. Makalah dalam Nama Kegiatan. Kota penyelenggaraan, Tanggal penyelenggaraan: Penyelenggara.

Rahardjo, Supratikno. 2010. Konvensi Perlindungan Warisan Budaya Bawah Air:Mengapa Tidak Kunjung Diratifikasi. Makalah dalam Lokakarya Pembahasan UNESCO Convention on the Protection of the Underwater Cultural Heritage. Jakarta, 2 Juni: Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, dan Departemen Kelautan dan Perikanan.

Pustaka Berupa Dokumen Paten:

Nama pemilik paten. Tahun paten. Nama Paten. Paten diikuti Negara tempat paten tersebut diperoleh dan Nomor Paten.

Sukawati, Tjokorda Raka. 1995. Landasan Putar Bebas Hambatan. Paten Indonesia No.ID/0000114.

Undang-undang dan Peraturan Lainnya

Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.

Demikian informasi singkat bagaimana cara penulisan daftar pustaka secara umum. Apabila anda ingin mengirimkan Karya Tulis Ilmiah ke Jurnal, maka ada baiknya anda membaca pedoman penulisan yang diterbitkan oleh jurnal tersebut.

Selamat berkaya, semoga sukses.


Buku Panduan Pembelajaran Berorientasi Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi atau Higher Order Thinking Skill (HOTS)

2 Juli 2019

Peran guru profesional dalam pembelajaran sangat penting sebagai kunci keberhasilan belajar peserta didik dan mengahasilkan lulusan yang berkualitas. Guru profesional adalah guru yang kompeten dalam membangun dan mengembangkan proses pembelajaran yang baik dan efektif sehingga dapat menghasilkan peserta didik yang pintar dan pendidikan yang berkualitas. Hal tersebut menjadikan kualitas pembelajaran sebagai komponen yang menjadi fokus perhatian pemerintah pusat maupun pemerintah daerah dalam meningkatkan mutu pendidikan terutama menyangkut kualitas lulusan peserta didik.

Pengembangan pembelajaran berorientasi pada keterampilan berpikir tingkat tinggi atau Higher Order Thinking Skill (HOTS) merupakan program yang dikembangkan sebagai upaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK) dalam upaya peningkatan kualitas pembelajaran dan meningkatkan kualitas lulusan. Program ini dikembangkan mengikuti arah kebijakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang pada tahun 2018 telah terintegrasi Penguatan Pendidikan Karakter dan pembelajaran berorientasi pada Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi atau Higher Order Thinking Skill (HOTS).

Peningkatan kualitas peserta didik salah satunya dilakukan oleh guru yang berfokus pada peningkatan kualitas pembelajaran di kelas dengan berorientasi pada keterampilan berpikir tingkat tinggi. Desain peningkatan kualitas pembelajaran ini merupakan upaya peningkatan kulaitas peserta didik yang pada akhirnya meningkatkan kualitas Pendidikan di Indonesia. Sejalan dengan hal tersebut, maka diperlukan sebuah buku pegangan guru yang memberikan keterampilan mengembangkan pembelajaran yang berorientasi pada keterampilan berpikir tingkat tinggi. Tujuannya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran yang pada akhirnya akan meningkatkan kualitas lulusan peserta didik.

Untuk mengunduh buku tersebut, silahkan klik (Disini!!!!! )


Surat Edaran Tentang Pengenalan Lingkungan Sekolah (PLS) Tahun 2019

1 Juli 2019

Menjelang masuk sekolah di tahun pelajaran 2019/2020, Dirjen Dikdasmen telah menerbitkan Surat Edaran Nomor 6197/D.D4/PD/2019 tentang (Juknis) Pengenalan Lingkungan Sekolah (PLS) Tahun 2019. Isi surat ini terkait Pedoman/Juknis pelaksanaan kegiatan Pengenalan Lingkungan Sekolah (PLS) tahun 2019 atau tahun pelajaran 2019/2020. Dalam rangka pelaksanaan Pengenalan Lingkungan Sekolah (PLS) untuk peserta didik baru tahun pelajaran 2019,2020, dengan hormat kami sampaikan hal-hal sebagai berikut:

  1. Kegiatan PLS dilaksanakan berpedoman pada Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomr 18 Tahun 2016 tentang Pengenalan Lingkungan Sekolah bagi Siswa Baru.
  2. Dinas pendidikan provinsi/kabupaten/kota sesuai dengan kewenangannya wajib mengawasi kegiatan PLS.
  3. Pelaksanaan PLS agar didahului dengan menghadirkan orang tua/wali peserta didik baru disekolah untuk diberikan penjelasan tentang profil sekolah, dan selanjutnya secara simbolis menyerahkan peserta didik baru kepada pihak sekolah.
  4. PLS dilaksanakan dalam jangka waktu tertentu sesuai ketentuan PLS, dan pelaksanaannya diatur oleh setiap Satuan Pendidikan menyesuaikan dengan kondisi jam belajar di sekolah.
  5. Kepala sekolah bertanggung jawab atas perencanaan, pelaksanaan. dan evaluasi dalam PLS.
  6. Apabila dalam pelaksanaan pengenalan lingkungan sekolah terjadi pelanggaran, dinas pendidikan provinsi/kabupaten/kota sesuai kewenangannya wajib menghentikan pelaksanaan kegiatan PLS dan memberikan sanksi sesuai Permendikbud Nomor 18 Tahun 2016 pada pasal 7 dan 8.

Untuk mengunduh Surat Edaran tersebut, silahkan klik tautan dibawah ini :

 

Surat Edaran Pengenalan Lingkungan Sekolah Tahun 2019

 

Kegiatan PLS Tahun 2019, masih berpedoman kepada Permendikbud No. 18 Tahun 2016 Tentang Pengenalan Lingkungan Sekolah Bagi Siswa Baru. Untuk mengunduh Permendikbud tersebut, silahkan klik tautan dibawah ini :

 

Permendikbud No. 18 Tahun 2016 Tentang Pengenalan Lingkungan Sekolah Bagi Siswa Baru