28 Oktober 2015

Welcome To My Blog, Selamat Datang, Sugeng Rawuh, Wilujeng Sumping…

Inilah blog saya, saya mengundang anda untuk ikut memberikan apapun, tanggapan, kritikan, atau saran dan masukan terhadap isi dari blog saya ini.

Karena saya menganggap, semua itu adalah pemacu untuk lebih baik lagi dalam mengelola blog atau rumah kedua saya ini, serta sarana menjalin tali silaturahmi dengan teman-teman dimanapun berada, meskipun tidak bisa bertatap mata.

Oke, selamat datang di blog saya, selamat membaca atau mungkin mengambil bahan-bahan yang dirasakan bermanfaat dan anda butuhkan.

Terimakasih, Haturnuhun, arigato, maturnembah nuwun……

Sumarso

Pengawas SMP, Disdikbud Kab. Pandeglang, Banten.


Penelitian Tindakan Kelas

17 September 2015


Panduan Penilaian Berbasis Higher Order Thinking Skills

14 November 2018

Bapak dan ibu, pembelajaran abad 21 menuntut kreativitas bukan saja para siswa dalam belajar tapi juga kreativitas para guru dalam mengelola pembelajaran. Pembelajaran abad 21 ditandai dengan 4 ciri yang sering kita kenal dengan istilah 4C atau 4K. Pembelajaran abad 21 menuntut adanya Colaborations, Creativity, Comunications, amd Critical Thinking. Pembelajaran tersebut tentunya menuntut para guru untuk merancang pembelajaran bagi siswanya agar mereka terbiasa berpikir tingkat tinggi.
Ketrampilan berpikir tingkat tinggi juga memerlukan penilaian yang dapat mengukur seberapa siswa mampu berpikir tingkat tinggi (HOTS). Guru harus mampu merencanakan, melaksanakan serta melakukan tindak lanjut hasil penilaian dengan menggunakan instrumen yang menuntut siswa untuk berpikir tingkat tinggi.
Bapak dan ibu, sebagai gambaran bagaimanakah penilaian yang berorientasi pada ketrampilan berpikir tingkat tinggi, berikut saya sediakan buku panduan penilaian yang berorientasi berpikir tingkat tinggi yang dapat bapak dan ibu unduh sebagai bahan bacaan dan pedoman dalam melakukan kegiatan penilaian.

Untuk mengunduhnya, silahkan klik gambar berikut :


Pembelajaran 4.0 Siapkah Kita?

4 November 2018

Berawal dari sebuah proyek dalam strategi teknologi canggih pemerintah Jerman yang mengutamakan komputerisasi pabrik maka muncul istilah Industri 4.0 yang sekarang sedang tren di seantero dunia. Sepertinya harus kita akui bahwa lonjakan dalam bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) sudah tidak terbendung lagi. Pada saat kita masih eforia dengan kecanggihan alat komunikasi bernama smartphone, diluar sana teknologi dan aplikasi baru bermunculan setiap harinya atau bahkan mungkin setiap menitnya. Munculnya Industri 4.0 sejalan dengan munculnya istilah Internet of Things (IOI). Hal ini bisa menjadi daya dukung atau bahkan mungkin menjadi ancaman bagi kita, bila kita tidak mempersiapkan diri untuk menghadapinya.

Berawal dari Industri 4.0 yang mengkhususkan di lingkungan pabrik, sudah dipastikan istilah 4.0 akan merambah kesemua lini kehidupan. Industri 4.0 adalah merupakan rangkaian dari generasi yang diawali dari revolusi industri pada saat ditemukannya mesin uap untuk menjalankan mesin yang tadinya dikerjakan dengan tenaga manusia atau manual disebut dengan 1.0, kemudian 2.0 dengan ditandainya industri masal dengan sistem elektronik, industri 3.0 ditandai dengan komputerisasi dan otomatisasi, dan yang paling baru Industri 4.0 dengan ditandai penerapan sistem siber-fisik mengawasi proses fisik, menciptakan salinan dunia fisik secara virtual, dan membuat keputusan yang tidak terpusat. Lewat Internet untuk segala (IoT), sistem siber-fisik berkomunikasi dan bekerja sama dengan satu sama lain dan manusia secara bersamaan (Wikipedia). Kita ingat beberapa waktu kebelakang munculnya istilah e-commerce untuk perdagangan elektronik yang akhirnya merambah kesemua lini, seperti e-learning, e-library, e-book, dan lain-lain bahkan yang fenomenal adalah e-KTP.

Demikian pula istilah 4.0 akan merambah pula dengan istilah Perdagangan 4.0, Kedokteran/Kesehatan 4.0, Pertanian 4.0, dan juga cepat atau lambat akan muncul istilah Pembelajaran 4.0.

Menjadi pertanyaan kita sebagai warga dunia yang tidak bisa menghindarkan dari perkembangan TIK, yang cepat atau lambat kita akan masuk pada era Pembelajaran 4.0, sudah siapkah kita untuk memasuki era tersebut?

Kita tidak boleh malu untuk instropeksi dan merenung diri tentang dunia pembelajaran atau pendidikan di Banten pada umumnya pada saat sekarang. Sudah sejauh mana capaian atau pengimplementasian TIK dalam kegiatan pembelajarannya.

Kita harus berani mengakui, pendidikan kita di Banten terutama di Banten bagian selatan masih belum menggembirakan kalau tidak ingin disebut tertinggal. Kita masih berkutat dengan masalah peningkatan APK, sarana-prasarana pendidikan yang masih jauh dari Standar Nasional Pendidikan (SNP), tidak meratanya sebaran guru, kompetensi guru yang masih harus terus ditingkatkan, putus sekolah, dan masih banyak permasalahan pendidikan yang lain. Bila melihat fakta tersebut, mungkin banyak diantara kita yang menganggap Pembelajaran 4.0 di Banten hanya khayalan belaka.

Kemajuan TIK pada dunia yang dikenal dengan istilah Borderless World, sudah pasti akan menyebar keseluruh dunia termasuk di Banten yang kita cintai bersama. Cepat atau lambat kita akan dihadapkan dan harus mengalami sebuah proses yang disebut dengan Pembelajaran 4.0

Penulis ingat pada saat masih duduk di Sekolah Dasar, pada saat itu melihat tayangan film kartun di TVRI. Dalam film tersebut ditayangkan seorang komandan polisi sedang berbicara dengan detektif melalui sebuah layar monitor. Pada saat melihat tayangan itu, kita menganggap hal tersebut hanya sebuah hayalan saja. Karena pada saat itu, jangankan melakukan komunikasi melalui layar monitor, untuk berkomunikasi jarak jauh masih banyak dilakukan dengan berkirim surat, karena melakukan percakapan dengan telepon belum semua tempat bisa melakukannya. Akan tetapi setelah beberapa puluh tahun kemudian, berkomunikasi secara jarak jauh dengan menampilkan wajah orang yang diajak bicara atau dikenal dengan video call sudah bisa dilakukan hampir oleh semua orang. Teleconference sudah bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja. Sebuah contoh kemajuan TIK yang awalnya kita anggap sebagai hal yang tidak mungkin.

Dari kenyataan tersebut, apakah kita masih menganggap Pembelajaran 4.0 adalah sebuah khayalan belaka? Dan kita tidak melakukan persiapan untuk menghadapinya?

Sementara diluar sana, mereka sudah mempersiapkan diri untuk itu. Pertanyaan itu adalah pertanyaan untuk kita semua, tetapi khususnya untuk para pengambil keputusan dalam bidang pendidikan. Sudah siapkah kita? Atau apakah kita sudah cukup puas dengan capaian seperti sekarang ini?

Saya membaca disebuah media, pendapat dari ahli yang mengatakan bahwa bangsa yang menjadi pemenang dalam persaingan global adalah bangsa yang menguasai TIK, benar atau salah jawabnya perlu kita renungkan bersama.

Meskipun bila boleh berpendapat, penulis ingin menambahkan ada beberapa hal lagi yang perlu dimiliki oleh suatu bangsa untuk menjadi pemenang yaitu bila bangsa tersebut memiliki karakter yang kuat, nilai-nilai kebangsaan yang kuat, kemandirian, dan  kedaulatan dalam semua bidang yang kuat pula.

Kemajuan TIK adalah sebuah keniscayaan, kita tidak bisa menghindarkan diri. Era Pembelajaran 4.0 sudah tiba didepan mata. Sekarang jawaban ada pada kita semua. Siapkah kita untuk menjadi pemenang? Ataukah kita cukup puas sebagai penonton.


Sinergi Untuk Membangkitkan Energi

4 November 2018

Pendidikan merupakan investasi jangka panjang yang sangat bernilai. Sebagai investasi yang sangat penting terutama bagi kejayaan suatu bangsa, sudah menjadi keharusan bahwa pendidikan membutuhkan perhatian dan peran serta dari semua pemangku kepentingan, serta membutuhkan pengelolaan yang baik sehingga tidak terjadi mal managemen yang akan berdampak terhadap tidak berdaya gunanya serta gagalnya investasi tersebut.

Sebagai sebuah proses, pendidikan sudah dimulai sejak anak berada dalam lingkungan keluarga. Bahkan bisa dikatakan bahwa proses pendidikan sudah dimulai sejak anak masih dalam kandungan. Pendidikan dalam lingkungan keluarga adalah pendidikan yang pertama dan utama. Utama dalam artian dalam keluargalah anak akan mendapatkan pendidikan tentang nilai-nilai karakter, budi pekerti, etika, sopan santun, keimanan, dan ketaqwaan melalui keteladanan orang tua dan pembiasaan dalam lingkungan keluarga. Hal inilah yang dirasakan kurang didapatkan dalam sekolah, karena memang di sekolah sudah diatur dengan struktur kurikulum yang sudah ada target pencapaiannya. Selain itu, waktu anak berada disekolah juga lebih sedikit dibandingkan bila anak berada dalam lingkungan keluarga. Di sekolah anak akan lebih banyak mendapatkan pendidikan yang sifatnya kognitif dan psikomotorik dengan mempelajari mata pelajaran yang sudah ditentukan dalam struktur kurikulum dan sudah tersajikan dalam sebuah silabus yang harus dicapai. Bila dilihat dari fakta tersebut sudah barang tentu antara keluarga dan sekolah mempunyai peran dan fungsi yang sama-sama penting bagi pendidikan anak. Keluarga atau orang tua harus terlibat dan melibatkan diri dalam masalah pendidikan anak termasuk pendidikan anak di sekolah. Pada saat sekarang bentuk keterlibatan orang tua di sekolah di manifestasikan dalam sebuah wadah yaitu Komite Sekolah. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dituliskan bahwa Komite adalah sejumlah orang yang ditunjuk untuk melaksanakan tugas tertentu; panitia. Bila melihat arti tersebut komite hanya bekerja bila ada kegiatan yang akan dilakukan saja, dan hanya beberapa orang saja yang berperan. Bila boleh mengusulkan, sudah saatnya Komite Sekolah diganti dengan Paguyuban Orang Tua Siswa agar peran dan keterlibatan mereka dalam kegiatan pendidikan anak disekolah menjadi lebih besar dan kolegial. Dengan  istilah paguyuban maka mereka akan bekerja sebagai masyarakat atau kelompok yang ikatan sosialnya didasarkan oleh ikatan perseorangan yang kuat. Dengan demikian rasa memiliki dan tanggung jawabnyapun akan besar. Tidak berlebihan bila sudah saatnya Paguyuban Orang Tua Siswa dihidupkan kembali. Paguyuban Orang Tua Siswa difungsikan kembali peran strategisnya. Selama ini Komite hanya berfungsi manakala ada musyawarah untuk meminta bantuan atau ada kegiatan yang membutuhkan tambahan pembiayaan seperti contohnya perpisahan, pembangunan toilet, pemenuhan mebeler maupun kegiatan karya wisata.

Paguyuban Orang Tua Siswa harus terlibat sejak dari awal sebuah perencanaan kerja sekolah. Mereka juga harus terlibat dalam membuat sebuah regulasi atau aturan tata tertib siswa, sehingga mereka akan merasa ikut bertanggung jawab terhadap penegakan disiplin siswa dan sudah memahami konsekuensi bila anak mereka melanggar aturan, sehingga tidak terjadi orang tua yang datang ke sekolah dan melampiaskan emosinya karena anaknya dipanggil guru karena melanggar aturan sekolah. Hal itu kemungkinan kecil terjadi bila dari awal mereka terlibat dalam perumusan aturan tata-tertib siswa. Dengan demikian orang tua sudah dari awal memahami dan menyadari bahwa aturan tata tertib sekolah itu juga merupakan hasil pemikiran dan kesepakatan mereka bersama.

Sehingga mereka benar-benar merasa bagian dari sekolah dan merasa bertanggung jawab terhadap jalannya proses pendidikan anak-anak mereka disekolah. Pendidikan anak disekolah bukan hanya sekedar proses “menitipkan” anak-anak kita untuk dididik oleh para guru, dan orang tua hanya sekedar melaksanakan kewajibannya membiayai kebutuhan anak-anak mereka.

Bila setiap keluarga mempunyai care yang besar terhadap pendidikan anak mereka di sekolah, maka akan terbentuk pula masyarakat yang peduli dan bertanggung jawab terhadap pendidikan, karena sesungguhnya masyarakat adalah kumpulan dari sejumlah manusia dalam arti seluas-luasnya termasuk kumpulan dari sejumlah keluarga.

Pengalaman penulis pada saat mengikuti Short Course di Jepang, bahwa keberadaan paguyuban orang tua di Jepang benar-benar mempunyai andil yang besar terhadap pendidikan anak-anak mereka, dan berfungsi dengan sangat baik. Dalam kegiatannya mereka sampai berperan sebagai tenaga penyeberang jalan bagi anak-anak sekolah secara sukarela, melakukan pemantauan prilaku anak pada saat diluar sekolah, melakukan kunjungan kesekolah, dan bagi orang tua siswa yang memiliki keahlian atau sebagai profesional mereka secara sukarela dan bersinergi dengan pihak sekolah melakukan pembelajaran seperti seorang guru secara bergiliran dengan memberikan ilmu sesuai dengan profesinya, dan semuanya dilakukan secara sukarela. Orang tua tidak lepas tangan dan menyerahkan pendidikan anak mereka disekolah sepenuhnya kepeda guru. Tapi mereka sebagai orang tua juga melibatkan diri dalam pendidikan anak di sekolah. Sebuah contoh sinegitas yang bisa kita terapkan dalam pendidikan kita.

Yakinlah dengan sinergi yang baik, akan memunculkan energi positif yang akan membawa pengaruh positif terhadap pendidikan anak-anak kita. Ingat bahwa tanggung jawab pendidikan anak adalah tanggung jawab bersama antara sekolah, orang tua, dan masyarakat.

 

Artikel telah dimuat pada Harian Kabar Banten

Edisi : Jum’at, 11 Mei 2018

Menjadi Nominator pada Lomba Karya Tulis Jurnalistik pada Apresiasi Pendidikan Keluarga Tahun 2018

#SahabatKeluarga

#ApresiasiPendidikanKeluarga2018


Keluarga : Gerbang Utama Pembentuk Karakter Bangsa

4 November 2018

Salah satu pemikiran Ki Hadjar Dewantara adalah Tri Pusat Pendidikan. Beliau berpendapat bahwa pendidikan menjadi tanggung jawab bersama tiga komponen yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat. Ketiga komponen tersebut harus saling bersinergi untuk mewujudkan tujuan pendidikan. Keluarga merupakan komponen yang pertama dan utama. Berawal dari keluargalah pendidikan bagi generasi bangsa dimulai. Keluarga mempunyai peranan yang sangat strategis dalam pendidikan, terutama dalam penanaman nilai-nilai karakter bagi anak sebagai generasi penerus bangsa. Dalam keluargalah akan ditanamkan nilai-nilai moral, norma-norma sosial, etika, dan kebiasaan-kebiasaan bagi anak.

 

Peran Keluarga Pada Masa Sekarang

Pada saat sekarang, di zaman kemajuan Teknologi Informasi dan Komunikasi, dimana berbagai pengaruh, entah pengaruh yang baik maupun pengaruh yang tidak baik, dengan mudah akan hadir dan bisa saja akan mempengaruhi prilaku dan sikap anak-anak kita. Hal itu dipermudah dengan hadirnya teknologi internet, dan akses internet sekarang dipermudah dengan penggunaan telepon pintar, yang pada saat sekarang hampir semua orang termasuk anak-anak kita memiliki perangkat telepon pintar tersebut.

Menurut Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia, bahwa dari 132,7 juta pengguna internet, 67,8 persen mengases internet melalui telepon pintar. (Kompas, 2 Mei 2017)

Dari jumlah tersebut, bukan tidak mungkin adalah anak-anak kita sebagai pengguna telepon pintar.

Memang kita tidak bisa menghindarkan diri dari kemajuan TIK. Kita juga harus mengakui bahwa kemajuan TIK telah banyak membantu dan mempermudah kita dalam aktifitas sehari-hari. TIK menjadi seperti pisau bermata dua. Disinilah peran keluarga sangat penting dalam memberikan pemahaman dan penanaman kebiasaan bagi anak, salah satunya agar anak bijak dalam menggunakan telepon pintar.

Seiring dengan membanjirnya perangkat telepon pintar dengan harga yang terjangkau, membanjir pula teknologi yang popular dengan istilah media sosial. Media sosial dengan sangat mudah diakses melalui telepon pintar. Ada sisi positif dengan hadirnya  media sosial, akan tetapi seperti yang dikhawatirkan oleh sebagian masyarakat pada saat sekarang tentang beredarnya ujaran kebencian serta berita bohong yang sifatnya mengadu domba dan menghasut yang tersebar melalui media sosial yang juga juga akan dibaca oleh anak-anak kita, tentunya dibutuhkan peran keluarga atau kita sebagi orang tua untuk menanamkan kepada anak-anak kita agar selalu bijak menanggapi berita yang masuk melalui media sosial di telepon pintar mereka. Keluargalah menjadi sarana filter agar anak-anak kita tidak mudah dipengaruhi oleh berita-berita bohong (hoax), dan selalu mencari tahu terlebih dahulu akan kebenaran dari berita-berita tersebut. Peran orang tua dalam keluarga sangat penting dalam menanamkan karakter anak agar selalu teguh pendirian tidak mudah terprovokasi berita bohong yang masuk melalui media sosial.

Bila peran keluarga bisa diperkuat dan tetap dipertahankan dalam penanaman karakter anak, maka wacana untuk memasukan pencegahan berita bohong (hoax) dalam kurikulum sekolah tidak perlu lagi. Ingat bahwa kebijakan baru dalam pendidikan seperti memasukan konten dan muatan dalam kurikulum hanya akan membingungkan bagi stake holder ditataran paling bawah, yaitu guru dan siswa. Yang diperlukan adalah tetap menjaga peran penting keluarga sebagai gerbang utama dan pertama dalam fungsinya sebagai pembentuk karakter bangsa, melalui pendidikan dalam keluarga bagi anak-anak kita.

  

Penutup

Melihat betapa pentingnya fungsi keluarga bagi pembentuk watak dan karakter bangsa, sudah menjadi keharusan bahwa dibutuhkan kehadiran pemerintah untuk mengambil kebijakan dalam optimalisasi dan revitalisasi fungsi keluarga dalam sistem pendidikan kita.

Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah membentuk Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga. Kita berharap banyak agar keberadaan SOTK baru di Kemendikbud tersebut benar-benar akan memberikan penguatan kepada seluruh keluarga di Indonesia, agar dapat benar-benar berperan sebagi gerbang pertama dan utama dalam penanaman karakter anak-anak kita sebagai generasi penerus bangsa.

Jadi, masih dalam semangat Hari Pendidikan Nasional, bila kita berbicara tentang pendidikan dalam rangka pembentukan karakter bangsa, jangan lupakan peran penting dari keluarga. Kita semua tentu setuju apa yang ada dalam sepenggal syair lagu yang menjadi lagu tema dari sinetron tahun 90an yang sangat terkenal pada saat itu “Keluarga Cemara

Harta yang paling berharga, adalah keluarga…”

 

Tulisan telah dimuat di Harian Kabar Banten

Edisi : Edisi Sabtu, 06 Mei 2017


Menjaga Kebhinekaan di Jaman Kemajuan Teknologi Informasi Dengan Memperkuat Pendidikan Karakter

4 November 2018

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi khususnya teknologi informasi dan komunikasi, harus diakui telah banyak mengubah gaya hidup atau pola kehidupan masyarakat sekarang ini. Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi membuat bermacam-macam informasi sangat mudah dan cepat sampai di tangan kita hanya dalam hitungan detik. Kita tidak bisa mengelak dan menolak kehadiran teknologi informasi dan komunikasi ditengah-tengah kehidupan kita, termasuk bagi anak-anak kita.

Ikatan Dokter Anak Indonesia, seperti dimuat dalam Buku Seri Pendidikan Orang Tua : Mendidik Anak di Era Digital, menyatahan bahwa anak-anak generasi masa kini merupakan generasi digital native, yaitu mereka yang sudah mengenal media elektronik dan digital sejak lahir.

Memang teknologi informasi dan komunikasi diciptakan untuk membantu dan mempermudah urusan manusia dalam kehidupan sehari-hari. Berbagai bidang kehidupan manusia terbantu dengan kecanggihan teknologi informasi dan komunikasi. Mulai dari urusan bisnis, keuangan, perdagangan, pendidikan, pemerintahan, dan urusan-urusan yang lainnya menjadi mudah dan lancar dengan hadirnya teknologi informasi dan komunikasi.

Bagaikan pisau bermata dua, pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi juga harus dibarengi dengan penguatan nilai-nilai moral bagi pemakainya. Hal itu menjadi dasar agar pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi tidak merugikan bagi diri sendiri maupun orang lain.

Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi yang merugikan orang lain contoh kecilnya adalah beredarnya isu atau berita bohong (hoax) yang tersebar melalui media sosial yang kita rasakan bersama pada saat ini. Bahkan Presiden Joko Widodo pada sebuah kesempatan mengatakan bahwa media sosial telah berubah menjadi sarana fitnah, menyebarkan isu sara dan adu domba.

Bila yang disampaikan Presiden dibiarkan tanpa ada langkah antisipasi, maka bukan tidak mungkin akan menimbulkan perpecahan di masyarakat, dan lebih luas lagi akan mengancam keberadaan Bhineka Tunggal Ika yang menjadi salah satu pilar kebangsaan Bangsa Indonesia.

Memang di era globalisasi dan era borderless world kita tidak bias menghindari dari hadirnya kecanggihan teknologi informasi dan komunikasi. Kita harus bijak dalam memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi agar tidak menjadi korban dari kecanggihan teknologi informasi dan komunikasi tersebut. Salah satu kecanggihan teknologi informasi dan komunikasi yang sangat akrab dengan kehidupan kita pada saat sekarang adalah media sosial. Media sosial telah menjadi sarana silaturahmi, maupun berbagi informasi. Namun ada sisi negatif dari media sosial yaitu digunakan sebagai penyebar isu, maupun hasutan yang dapat memicu permusuhan diantara pengguna media sosial.

Contoh lain dari dampak negatif  hadirnya media sosial di tengah-tengah kehidupan kita antara lain bagaimana dengan mudahnya pada saat sekarang sebagian kecil dari masyarakat kita terprovokasi dan terpancing untuk berbuat kerusakan yang merugikan semua pihak hanya dengan membaca informasi yang masuk dari media sosial ke gadget kita, tanpa menyaring kebenaran dari informasi tersebut terlebih dahulu.

Bila hal ini, terus dibiarkan maka masyarakat luas yang akan menanggung kerugiannya. Sebagai antisipasi jangka panjang peran satuan pendidikan sangat strategis dalam membentengi dan memberikan pemahaman bagi generasi penerus agar bijak dalam pemanfaatan kecanggihan teknologi informasi dan komunikasi tersebut. Pemerintah juga harus mengembangkan kurikulum pendidikan yang tidak hanya berorientasi kepada kuantitas atau nilai capaian berupa angka-angka dan ranking-ranking sebagai tolok ukur keberhasilan. Pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah memulai dengan menerapka Kurikulum 2013 serta menjadikan penguatan pendidikan karakter dan budi pekerti sebagai program prioritas kementerian.

Kita harus menyadari bahwa pendidikan tidak hanya terfokus kepada aspek kognitif saja, tetapi juga harus menyentuh aspek psikomotorik, dan tidak kalah pentingnya adalah aspek nilai atau sikap (afektif) melalui penanaman nilai karakter dalam pendidikan.

Pendidikan yang kurang menekankan pada aspek penanaman karakter menimbulkan berbagai macam permasalahan dikalangan siswa. Hal tersebut terlihat dari berbagai masalah yang terus bermunculan sebagai akibat dari makin menurunnya kualitas nilai-nilai karakter pada siswa. Permasalahan yang berhubungan dengan makin menurunnya nilai-nilai karakter siswa tersebut adalah sering terjadi berbagai tindak kekerasan seperti tawuran antar pelajar, mencontek, bullying, berbagai tindak asusila, perusakan fasilitas sekolah oleh siswa, meningkatnya penggunaan narkoba, dan lain sebagainya, seperti pendapat Dharma Kesuma, dkk, dalam Buku Pendidikan Karakter Kajian Teori dan Praktik.

Nilai-nilai moral seperti menghargai kehidupan dan kemerdekaan, tanggung jawab terhadap orang lain, kejujuran, keadilan, toleransi, penghormatan, disiplin diri, integritas, kebaikan, akan menjadi warisan moral yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Tanpa nilai-nilai yang membentuk karakter baik, individu tidak bisa hidup bahagia dan tidak ada masyarakat yang dapat berfungsi secara efektif. Tanpa karakter baik, seluruh umat manusia tidak dapat melakukan perkembangan menuju dunia yang menjunjung tinggi martabat dan nilai dari setiap pribadi.

Tanggung jawab penanaman nilai-nilai karakter bagi generasi kita, merupakan tanggung jawab kolektif dari semua pihak, dimulai dari lingkungan keluarga, masyarakat, dan pemerintah/satuan pendidikan. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah memiliki grand design mengenai penguatan pendidikan karakter bagi siswa di satuan pendidikan yang harus kita dukung bersama, demi terwujudnya generasi penerus yang berkarakter yang mampu menjaga keutuhan Bhineka Tunggal Ika ditengah-tengah globalisasi dan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi.

Anak-anak kita yang terlahir pada zaman kemajuan teknologi informasi harus diberikan bekal berupa penguatan nilai moral dan karakter agar mampu hidup ditengah-tengah hiruk pikuk kemajuan teknologi informasi dan komunikasi tanpa harus kehilangan jati diri sebagai pribadi dan sebagai bangsa yang mampu menjaga keutuhan Bhineka Tunggal Ika. Tugas orang tua mempersiapkan anak menghadapi zamannya. Kita sebagai orang tua, apakah sudah mempersiapkan anak untuk menghadapi era digital saat ini? dan era kedepannya? Sebuah pertanyaan yang membutuhkan bukan hanya pemikiran tetapi langkah nyata berupa implemntasi dalam kehidupan sehari-hari, seperti yang ditulis dalam Buku Seri Pendidikan Orang Tua : Mendidik Anak di Era Digital.

Penguatan nilai-nilai dan pendidikan karakter di tengah-tengah perkembangan dan kemajuan teknologi dan informasi yang sangat pesat di lingkungan keluarga, masyarakat, dan satuan pendidikan diharapkan akan mampu menciptakan generasi penerus yang berkarakter yang mampu menjaga keutuhan Bhineka Tunggal Ika sebagai nilai luhur dari Bangsa Indonesia, semoga.

 

Tulisan telah dimuat di Harian Kabar Banten

Edisi : Kamis, 16 Maret 2017, Halaman 8


Kata Kerja Operasional (KKO) Berdasarkan Taksonomi Bloom Revisi

7 Agustus 2018

Kemajuan zaman menuntut berbagai perubahan. Tidak terkecuali dalam dunia pendidikan dan pembelajaran. Pembelajaran zaman sekarang atau sering kita kenal dengan pembelajaran abad 21, membawa berbagai perubahan. Seperti pola berpikir anak dituntut untuk menerapkan Ketrampilan berpikir tingkat tinggi (HOTS). Perubahan tersebut juga membawa perubahan indikator belajar siswa sesuai dengan tuntutan belajar abad 21.

Berikut adalah Kata Kerja Operasional (KKO) yang pasti digunakan oleh bapak/ibu guru dalam membuat indikator pencapaian kompetensi siswa maupun tujuan pembelajaran.

A. RANAH AFEKTIF

Menerima (A1) : Memilih, Mempertanyakan, Mengikuti, Memberi, Menganut, Mematuhi, Meminati

Menanggapi (A2) : Menjawab, Membantu, Mengajukan, Mengkompromikan, Menyenangi, Menyambut, Mendukung, Menyetujui, Menampilkan, Melaporkan, Memilih, Mengatakan, Memilah, Menolak.

Menilai (A3) : Mengasumsikan, Meyakini, Melengkapi, Meyakinkan, Memperjelas, Memprakarsai, Mengimani, Mengundang, Menggabungkan, Mengusulkan, Menekankan, Menyumbang.

Mengelola (A4) : Menganut, Mengubah, Menata, Mengklasifikasikan, Mengombinasikan, Mempertahankan, Membangun, Membentuk pendapat, Memadukan, Mengelola, Menegosiasi, Merembuk.

Menghayati (A5) : Mengubah perilaku, Berakhlak mulia, Mempengaruhi, Mendengarkan, Mengkualifikasi, Melayani, Menunjukkan, Membuktikan, Memecahkan

B. RANAH PSIKOMOTORIK

Menirukan (P1) : Menyalin, Mengikuti, Mereplikasi, Mengulangi, Mematuhi

Memanipulasi (P2) : Mendemonstrasikan, Memanipulasi, Membuat kembali, Membangun, Melakukan, Melaksanakan, Menerapkan, Mempraktikkan.

Presisi (P3) : Menunjukkan, Melengkapi, Menyempurnakan, Mengkalibrasi, Mengendalikan.

Artikulasi (P4) : Mempertajam, Membentuk, Menseketsa, Membangun, Mengatasi, Menggabungkan, Koordinat, Mengintegrasikan, Beradaptasi, Mengembangkan, Merumuskan, Memodifikasi.

Pengalamiahan (P5) : Memproduksi, Mencampur, Mengoperasikan, Mengemas, Mendesain, Menentukan, Mengelola, Menciptakan.

C. RANAH KOGNITIF

Mengingat (C1) : Membilang, Mendaftar, Menunjukkan, Menamai, Menandai, Membaca, Menghafal, Mengulang, Memilih, Melafalkan, Menuliskan, Menyebutkan.

Memahami (C2) : Menjelaskan, Mengkategorikan, Mengasosiasikan, Membandingkan, Menghitung, Menguraikan, Membedakan, Mendiskusikan, Mencontohkan, Mengemukakan, Menyimpulkan, Merangkum, Menjabarkan, Mengidentifikasi, Mengartikan, Menghitung.

Menerapkan (C3) : Menerapkan, Menggunakan, Menyelidiki, Mengoperasikan, Melaksanakan, Memproduksi, Memproses, Melakukan, Mengimplementasikan.

Menganalisis (C4) : Menganalisis, Mendiagnosis, Menyeleksi, Merinci, Mendiagramkan, Membagankan, Menelaah, Mengedit, Mengaitkan, Memilah.

Mengevaluasi (C5) : Membandingkan, Menyimpulkan, Menilai, Mengkritik, Memprediksi, Menafsirkan, Mempertahankan, Membuktikan, Memvalidasi, Mengetes, Memproyeksikan.

Menciptakan (C6) : Mengabstraksi, Menganimasi, Mengombinasikan, Mengarang, Membangun, Menciptakan, Mengkreasikan, Merancang, Merencanakan, Membentuk, Merumuskan, Menggabungkan, Memadukan, Mereparasi, Memproduksi, Merekonstruksi, Memodifikasi

Dalam pembelajaran digital, indikator atau kata kerja operasional berdasarkan Taksonomi Bloom yang direvisi, dapat dilihat pada gambar dibawah ini :


Peraturan Pemerintah Tentang Gaji Ke-13 dan THR Tahun 2018

23 Mei 2018
Kabar gembira bagi pensiunan PNS, TNI dan Polri. Tahun ini, pemerintah mengeluarkan kebijakan memberikan Tunjangan Hari Raya (THR) ‘plus-plus’ kepada mereka. Kebijakan itu didasarkan pada peraturan pemerintah tentang pemberian THR dan gaji ke-13 bagi PNS TNI, Polri dan pensiunan yang diteken Presiden Joko Widodo pada Rabu (23/5/2018). “Yang istimewa tahun ini dibandingkan tahun sebelumnya, THR tahun ini akan diberikan pula kepada pensiunan,” kata Presiden Jokowi dalam konferensi persnya di Istana Negara, Jakarta, Rabu siang.

Menteri Keuangan Sri Mulyani menambahkan, kebijakan pemberian THR untuk pensiunan memang baru diberlakukan tahun ini. Tahun-tahun sebelumnya, pensiunan PNS, TNI, Polri hanya mendapatkan gaji ke-13 saja. Besarannya pun tidak hanya sebesar gaji pokok sesuai golongan mereka saja, tapi juga ditambah besaran tunjangan kinerja semasa bekerja. “Tahun ini, THR-nya termasuk di dalamnya tunjangan kinerja. Tahun lalu, pensiunan tidak dapat THR,” ujar Sri Mulyani. Ia menambahkan, pemerintah mengalokasikan anggaran sebesar Rp 35,76 triliun untuk pembiayaan THR dan gaji ke-13, bagi PNS, TNI, Polri dan pensiunan. Besaran ini sesuai dengan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2017 tentang APBN. “Ini meningkat 68,9 persen, karena tahun lalu pensiunan nggak dapat THR,” lanjut Sri.
Untuk mengunduh PP Tentang Gaji Ke-13 dan THR Tahun 2018 silahkan Unduh dengan mengklik tautan dibawah ini
Selamat, semoga berkah. Amin…
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Tahun Ini, Pensiunan Juga Dapat THR Lebaran dari Pemerintah”, https://nasional.kompas.com/read/2018/05/23/14194321/tahun-ini-pensiunan-juga-dapat-thr-lebaran-dari-pemerintah.